Mujizat mengampuni

0
409
Bagikan :

Pagi ini, aku mendapat kiriman foto-foto yang selama ini aku cari, dari ponakanku. Rupanya ipar bungsuku menyimpannya baik2.
Aku akan memulainya dari perjalanan hidup seorang perempuan yang lahir di daerah pedalaman yang kumuh, hidup terkungkung dalam gelapnya kebebasan sebagai makhluk spritual dan pada akhirnya menemukan cahaya cinta yang menyinari hari-hari penuhparti. Dicintai oleh banyak suku karena kasih ajaib yang menuntun jalannya.

***
Di masa itu, tak banyak orang tua mengijinkan anak perempuannya untuk merantau dan mengenyam pendidikan tinggi.
Ayahku yang bijak, seolah-olah tuli ketika percakapan mereka di ruang tamu mulai mengarahkan beliau untuk memikirkan kemungkinan terburuk bagi seorang anak perempuan.
Ayahku malah dengan bangga menyatakan bahwa “saya lebih percaya anak saya dari pada pernyataan kalian.” Malam ini adalah malam terakhirku di rumah karena esok aku harus naik kapal laut, berangkat kuliah di pulau seberang.

Teman-teman ayahku berkunjung malam ini, sekali lagi mereka mengajukan argumen yang masuk akal agar ayahku membatalkan niatnya melepas aku melangkah ke perguruan tinggi.

Kata-kata ayahku yang terdengar lantang dan pasti menjadi spirits bagi semangatku sat itu. Ibarat perisai kokoh yang membentengi konsep sukses studyku selama kuliah yang aku tempuh dengan waktu luar biasa panjang. Delapan tahun

***

Di semester akhir kuliahku, ibu memberi saran “jangan menutup diri terhadap laki-laki. Kamu harus menikah, punya anak dan membesarkannya. Jika ada pria yang mencintaimu, menikahlah sebelum kau memiliki ijasah sarjana. Mama kuatir kalau kamu sudah sarjana, tak akan ada pria yang mendekatimu karena status sosialmu yg tinggi.” baiklah, mama. Jika melihatku menikah akan membahagiakanmu, akan aku lakukan.

Sewaktu diwisuda, saya malah sudah memiliki dua orang anak dan seorang suami dan mereka berdiri dengan bangga di sampingku.
Tiga tahun kemudian, pria disampingku tutup usia, dan aku kembali ke rumah ayahku sebagai anak kebanggaannya.
Beberapa persengketaan menyangkut hak asuh anak antara aku dan keluarga almarhum suamiku, tak terelakkan.
Bagiku, tidak penting untuk menjelaskan panjang lebar tentang apa alasan, semua anak harus ikut saya.
Orang tuaku harus menelan pil pahit karena persengketaan aku dan keluarga almarhum.
Dalam kondisi emosi yang rapuh, saya mendatangi seorang Pengacara sekaligus penasehat spritual dari almarhum suamiku. Saya baru saja menerima SK pengangkatan sebagai ASN. Dengan bijak, sang penasehat memberiku wejangan : “jangan takut dengan hasil akhir dari proses ini. Ibu siap diri dan segera berangkat ke Alor, tanah kelahiranmu laksanakan tugas sebagai ASN. Katakan pada ayahmu yang sekarang kecewa bahwa kau akan jadi anak perempuan terbaiknya. Lakukanlah banyak hal baik untuk mengembalikan kebahagiaan ayahmu.”
Dua puluh tahun, berlalu begitu saja dalam proses yang panjang dan rumit. Kini, aku diterima kembali dalam keluarga almarhum suamiku. Banyak orang memberikan saran agar aku melakukan beberapa tindakan semacam meminta gantigrugi atau sejenisnya tapitaku memilih melupakan segala hal yang terjadi. Toh aku tidak kehilangan apapun ataupun kekurangan berkat Tuhan.

Baca Juga:  Kuatnya Cintamu, lelaki-ku

Bermodalkan penghasilan sebagai aparat sipil negara,  aku menopang hidup keluarga besar ku. Keempat anak yang aku lahirkan, sudah duduk di bangku perguruan tinggi, dua diantaranya sudah menyandang gelar sarjana.

Selama masa membesarkan anak, saya melayani Paruh waktu sebagai pekerja sosial. Orientasi pelayanan saya adalah advokasi anak dan perempuan korban kekerasan. Selama 13 tahun melayani, saya bersama teman-teman mengadvokasi  masalah perempuan dan anak, di bawah naungan Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Alor. Tahun 2017, karena sebuah konspirasi, akhirnya saya hijrah dari Alor dan menetap di Kupang, ibu kota propinsi Nusa Tenggara Timur.

Tak ada keuntungan material yang saya dapatkan selama menjadi pekerja sosial. Saya justru merasa terberkati setelah keluar dari Alor.  Sekarang banyak perempuan sudah berani melaporkan pelaku tindak kekerasan yang mereka alami. Tapi ada beban yg masih mengganjal. Hubungan dengan Keluarga suamiku, belum dipulihkan.

Tidak gampang memperbaiki sebuah hubungan yang sudah rusak puluhan tahun, terutama persengketaan gono gini dalam keluarga. Sekali lagi, saya tidak mau tersinggung atau marah dengan keadaan. Saat yang tepat, saya mendatangi keluarga almarhum suamiku dan memperkenalkan anak-anakku kepada mereka. Dan mujisat yg lebih besar, disediakan Tuhan bagiku.
Banyak hal baik dan besar, mendatangiku tanpa dikejar.
Situasi itu kemudian membentuk aku menjadi seorang perempuan seperti yang anda lihat, hari ini.

***
Orang kuat dibentuk di dalam peperangan yang sengit.

Facebook Comments
Bagikan :