Jadilah utuh

0
73
Bagikan :

Apakah anda mengenal saya? Tentu belum
Namaku Lodia, di tempat asalku selalu disapa mami. Aku pernah melayani sebagai pekerja sosial sejak usia 17 tahun, mendampingi ibunda tercintaku yang berjuang menegakkan hak-hak perempuan sejamannya. Sampai akhir hayatnya, beliau merasa perjuangannya tidak berhasil dan satu pesannya padaku adalah “jaga dirimu baik-baik”.
Lama setelah beliau meninggal, kata wasiatnya mulai saya pahami. Saya tidak lagi turun langsung di tempat kejadian perkara atau mengadvokasi seorang korban kekerasan tetapi karena dibatasi ruang dan waktu, saya hanya menghabiskan waktu dengan menulis status di media sosial.
Beberapa status terpaksa harus saya tutup karena Nitizen kayaknya tidak sanggup untuk mencerna maksud saya secara manusiawi. Ada yang menangis, marah bahkan lucu dan tidak sedikit yang memutuskan pertemanan kami…!!
Mereka berpikir bahwa saya seorang penulis yang sempurna dan tak akan pernah bahkan tidak perlu “melakukan kesalahan.”
Itu justru membebani saya.
Harus diakui bahwa kita terlanjur terpola dalam kehidupan yang hanya mengenal dua konsep keselamatan saja yakni orang jahat/berdosa akan masuk neraka sedangkan orang baik akan selamat masuk ke sorga. Tak ada alternatif lain dalam argumentasi kebaikan dan kejahatan hidup kita selama itu.
Di masa dewasa, lingkungan tempat tinggal turut menuntut kita harus sesempurna mungkin sesuai standar umum, tanpa berpikiran waras bahwa siapapun dia, manusia itu akan tetap punya kelemahan diri.

Saya sudah bertemu ratusan bahkan ribuan perempuan dengan berbagai bentuk penderitaan akibat pola yang keliru ini.
Ketika membaca sebuah artikel tentang almh. putri Diana dari Inggris yang cantik saya sadar bahwa sang putri tidak secantik gambar yang terlihat.
Rahasia kecantikan putri Diana ada pada penggunaan make up casual yang disesuaikan dengan warna baju dan situasi. Wajahnya hanya disulap untuk memenuhi tuntutan profesinya sebagau ratu yang sempurna untuk difoto.
Lalu apa tujuan saya menulis Artikel ini??
Kita harus segera Berpikir sebagai seorang manusia yang bisa lalai sekali waktu, bukan sebagai makhluk suci yang tak boleh keliru.
Anda dan saya mungkin saja terobsesi untuk tidak pernah berbuat salah tetapi tetap saja ada celah untuk salah. Pengalaman saya mengadvokasi korban selama bertahun-tahun, banyak korban kekerasan justru datang dari pelaku yang baik-baik. Anda juga mungkin yidak percaya kalau saya sendiri.mengalami pelecehan dan kekerasan psikis berulang kali, bahkan dari orang-orang dekat yang saya percayai.
Anda mungkin pernah mengalami luka fisik atau luka batin tapi saya bahkan pernah mengalami luka spritual dan hampir hilang percaya kepada para pemuka.
Sekali waktu, ada perempuan korban kekerasan yang mendatangiku dan menangis sejadi-jadinya, ketika dia tahu bahwa tidak ada seorangpun dalam kelompok kerohaniannya yang mau mendengar keluhannya. Dia mencoba mencari perlindungan dengan cara mengadukan perilaku suaminya yang kasar dan tidak manusiawi tapi tak seorangpun yang mau mendengarkan.
Mereka merasa bahwa perempuan yang baik itu tidak boleh membongkar aib suaminya walau suami itu berselingkuh dan memukulinya.

Baca Juga:  Jangan menyerah ketika kau merasa menyerah itu, mudah.

Berpikir cepat telah membantu saya menemukan jalan tengah yang seimbang bagi perempuan ini. Setelah melalui beberapa proses dan selesai menjalani masa tahanan di penjara, beliau diceraikan oleh suaminya itu, tanpa mencoba memperbaiki hubungan.
Suaminya kemudian menikah dengan wanita lain dan ibu ini memilih tetap sendiri dengan label “perempuan yang diceraikan suaminya.” mengerikan. Beliau memilih hijrah ke kota lain karena agar memulai kehidupan yang baru.
***
Saya sendiri menarik banyak pelajaran dari banyak kasus yang saya advokasi. Keberpihakan sosial Masih berdasarkan rasa suka tidak suka, bukan berdasarkan kebenaran yang diyakini.
Memulihkan keadaan Korban kekerasan bukanlah hal mudah. Sangat tergantung dukungan dan penerimaan orang-orang dekat. Ibarat pot bunga atau sebuah kendi yang jatuh pecah dan berantakan demikian seorang korban kekerasan atau seseorang yang pernah melakukan kesalahan dan berusaha pulih dari kesalahan yang pernah dilakukannya, adalah pilihan yang ambigue. Tidak hitan, tidak putih. Abu-abu
Jika Anda diperhadapkan pada sebuah kenyataan yang sudah merusak kesempurnaan hidupmu ibarat sebuah pot bunga kesayangan yang hancur berantakan, maka kau telah diperhadapkan hanya pada dua pilihan. Memindahkan Pot bunga yang rusak itu ke tempat sampah atau menyusun dan merekatkan kembali satu pecahan dengan lainnya hingga menjadi puzelle yang utuh dan indah kembali.
Bersama beberapa orang korban, kami pernah berusaha untuk menjadi baik kembali tetapi itu hanya angan-angan. Mereka hanya bisa dipulihkan, syukur kalo bisa melupakan.
Pernahkah terpikirkan jika anda dan saya adalah manusia biasa yang bisa jatuh, tapi bisa bangkit kembali tanpa luka membekas dan mulus seperti semula? Tentu mustahil bukan? Hidup adalah pilihan dan anda harus memilih.apakah anda mau mengubah konsekwensi dari kesalahanmu menjadi sebuah susunan puzelle yang indah atau mau tetap tinggal dalam kegagalan?

Baca Juga:  Perempuan, seberapa pentingkah engkau

Ada beberapa perempuan pendahulu kita yang sejarah panjang hidupnya bisa jadi cermin buat kita. DR. Maya Angelo, Joice Meyer. Salah satu dari mereka bernama Oprah Winfrey. Oprah adalah contoh perempuan yang masa kecilnya hancur akibat mereka tinggal di kawasan kumuh bersama ibunya yang miskin. Beliau pernah melahirkan anak di usia belia telah tumbuh besar dalam Berbagai pelecehan sebelum akhirnya menjadi dewasa dan sukses besar. Ketika sudah sukses, mereka tahu betul bahwa banyak orang belum tahu bagaimana menjadi utuh, tanpa harus menjadi baik kembali.
Tidak lupa, para perempuan hebat ini selalu jujur menuliskan jurnal perjalanan hidup mereka dan berbagi dengan perempuan lainnya dan berharap perempuan yang membacanya bisa menolong dirinya sendiri untuk menjadi utuh dalam kedewasaan yang berproses.
Kita tidak bisa seperti mereka Tetapi pengalaman positifnya bisa diadopsi untuk kebaikan, minimal bagi diri sendiri.
~~~***~~~
Jika berintegritas anda sudah bisa memilah.

Lebih baik ada pengakuan karena pernah berbuat salah dari pada tak pernah ada pengakuan karena memang tidak pernah melakukan sesuatu.
Kebiasaan untuk jujur mengakui akan memungkinkan anda dan saya mensingkronkan apa yang diucapkan dengan apa yang dihidupi.

Itulah berintegritas.

semoga.

Facebook Comments
Bagikan :