Kuatnya Cintamu, lelaki-ku

0
249
Bagikan :

Kisah manis yang terlambat tapi tak berlalu begitu saja.
Tiba di pelabuhan, saya bertemu seorang ibu bersama teman saya. Penuh hati-hati ibu itu mendengar permintaan teman saya untuk menitip berapa lembar surat berharga milik anaknya di Kupang. Setelah sedikit basa basi, akhirnya titipan itu sudah terselip dlm tas ranselku.
Agak ragu, ibu itu memberikan selembar uang limapuluh ribuan sebagai uang pulsa. Sy menolaknya dengan ramah. Lalu dia bertanya,
“Siapa namamu?”
jawabku: “lodia”
Sontak kaget lalu dengan mimik yang familiar dia lanjutkan percakapan kami. “ibu lodia lahtang ko?”
“Ya betul…kok tahu nama saya?”
Jawabnya, “iya, saya biasa baca tulisan ibu lodia di koran. Lama ingin ketemu tapi baru liat ni. Paman saya punya kisah cinta dengan mamamu.”
katanya dalam dialek Melayu Alor yg kental.
“Oh ya?”. Bagaimana ceritanya? Tanyaku ramah.
“Paman saya, dulu tugas di Palembang. Seperti biasa, orang muda jaman dahulu, tidak biasa memilih jodoh sendiri. Lalu Beliau kirim pesan ke kampung, di Alor sini, untuk ambil ibumu yg cekatan dan pintar, menjadi isterinya. Keluarga kami lalu urus adatnya dan mama sempat dibawa ke dalam klan calon suaminya dan tinggal di sana beberapa waktu, tanpa sempat saling bertemu satu sama lain.

***
(Asal tahu saja, orang Alor di masa lalu, perempuan bisa dibelis dan diantar ke rumah suaminya tanpa peduli apakah perempuan itu mau dinikahkan atau tidak, tergantung siapa wali/penanggung jawab/ortu si perempuan. Hal ini terjadi terutama di kalangan keluarga orang-orang kunci di kampung).
Setelah sah secara adat dan menjadi anggota baru, banyak hadiah yg dikirim oleh calon suaminya dari rantau, tapi kiriman itu tak pernah sampai ke tangan mamaku.
Rupanya sang mertua memberikan kiriman itu kepada wanita pilihan hatinya. Mamaku merupakan anak perempuan dari Temukung Kampung, yang sudah meninggal dunia. Hak hidup mereka sekarang, diatur oleh status ahli waris sebagi pengganti berikutnya dalam keluarga. Mamaku adalah anak Temukung (raja pribumi bentukan kolonial) sehingga beliau sedikit paham tentang apa itu hak dan kewajiban. Karena merasa diperlakukan tidak baik oleh sang mertua, mamaku akhirnya memilih untuk pulang ke kampungnya dan meninggalkan masalah adatiah yg rumit.
Beberapa bulan kembali ke kampung dari klan suaminya, mama bertemu dengan papa, seorang guru muda yang baru saja memulai karier di SD Negeri Kuneman, pusat desa tempat mamaku tinggal. Mama bilang beliau yang nembak duluan ke ayahku. Gayung bersambut, mereka sepakat memulai hidup rumah tangga.

Baca Juga:  Tentang Wanita

***
Ketika bertemu ayahku, mama diperhadapkan dalam perkara adat di kampung. Sesuai kemampuan intelektual terbatasnya, mamaku memenangkan perkara itu dan melenggang bebas menuju pelamin bersama ayahku, pria pilihan hatinya.
Tanpa memberiku kesempatan pergi, ibu tadi melanjutkan ceritanya. Sekitar tahun 1970an, paman saya pernah ke alor dan hendak membawa ibu pergi, tetapi informasi tentang kaburnya mama dari rumah,belum beliau dengar. Perlahan saya bergeser tempat, berdiri di tempat yang nyaman dan menyuruh perempuan ini melanjutkan ceritanya.

“Setibanya di kampung, paman saya tanya tentang mama tapi kami bilang mama Mia telah menikah dan melahirkan anak. Suaminya bermarga Lahtang. Kondisi makin rumit karena secara adat, mamaku sudah menentang dan menghancurkan kekakuan ikatan adat yang memberatkan perempuan. Meski begitu, ayahku menjadi perisai terbaiknya melewati masa itu. Seperti seorang ksatria, ayahku membawa beberapa benda berharga untuk minta maaf dan pamit pada pria pertama yang sudah terlanjur “dikhianati” oleh isterinya.

“Oh…” Aku bergumam. Seperti disambar petir di siang bolong, cerita ini baru saya dengar.
“Terus bagaimana dengan pamanmu, mam?” Tanyaku penasaran.
“Pamanku kecewa dan segera balik dari kampung. Beliau juga tidak mau menikah dengan perempuan pilihan ibunya lalu beliau kembali ke palembang, menikah di sana dan punya anak. Sebelum berangkat kembali ke Palembang, paman saya berpesan, “jangan kamu putus hubungan dengan mama Mia. Yang terjadi sudah terjadi. Tetaplah ingat beliau, apapun bentuknya.” Paman saya sudah pensiun dari Kepolisian, tuturnya mengakhiri pertemuan kami.

***
Kapal bertolak dari pelabuhan penyeberangan. Mamaku baru tutup usia, dua bulan yang lalu dan saya berangkat ke Kupang dengan maksud cek up kesehatan. Berat badanku, sudah hilang empat kilogram, kehilangan nafsu makan, sering pusing dan penyakit aneh lainnya. Ayahku sudah lebih dahulu,tiga tahun sebelumnya. Siapa Nara sumber yang bisa menjelaskan padaku, kebenaran cerita ibu di pelabuhan tadi?? Saya malah tidak sempat bertanya, siapa nama asli si ibu.
Setibanya saya di Kupang, segera saya datangi paman saya dengan maksud bertanya tentang kisah ini. Setelah crosscek dengan adik kandung ibuku, ternyata cerita ibu ini benar adanya. Mamaku pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan membela dirinya dalam berbagai perkara adat dan pemerintah menyangkut tidak beraninya,pergi tinggalkan rumah suami.
Saya juga terkesan dengan pesan dri si paman (mantan “suami” mamaku) pada keluarganya di alor. “Kalo kalian ketemu mama Mia dan anak-anaknya, sapa mereka karna mama Mia itu mama kalian.”
Ah, rasanya dia mewakili hati banyak laki-laki baik di dunia.
“Lelaki suka mencintai dengan caranya sendiri….”

Baca Juga:  Kenali Pedofil (orang dewasa penyuka sex dengan anak)

***
Usiaku empat puluh tiga tahun ketika kisah ini saya dengar. Memang saya tahu, mamaku perempuan pejuang hak perempuan yang militan. Di masa awal kuliah, ketika pulang liburan, mama sibuk sekali dan ada beberapa perempuan tua yang beliau amankan di rumah kami. Rupanya beliau sedang berjuang mati-matian membela perempuan korban kekerasan akibat pembunuhan dan pelecehan yang mereka alami karena dicurigai sebagai suanggi di era tahun delapan puluhan.
Bagiku, mama adalah jagoan dan sangat naif kalau saya tidak melanjutkan perjuangannya.
Mungkin karena pengalaman pribadinya yg pahit dahulu, mamaku sangat konsisten. Hari ini, dedikasiku adalah doanya.
Aku harus menyatakan penghormatan tertinggi kepada ayahku. Seumur pernikahan mereka, ayahku tidak pernah cerita tentang masa lalu mamaku. Kalo tidak ada perempuan di pelabuhan yang titp suratnya, tentu saja kisah ini akan tetap terbungkus. Lelaki sejati tidak pernah menyakiti hati perempuannya, sepahit apapun masa lalu.

Bagaimanapun jalannya, saya menghargai kisah ibu saya. Ayah saya lebih peduli dan fokus pada masa depan bersama mamaku dibandingkan masa lalu nya. Alhasil kami anak nya berempat, sukses semua pada jalan yang kami pilih.
Thanks mama, perjalanan hari ini memberiku cerita. Mereka masih menghormatimu sebagai mama dan Lodia Lahtang adalah adiknya. Aku punya banyak saudara.
Cinta wanita itu ajaib, tapi cinta lelaki,sangat kuat.seperti ikatan yang tidak pernah longgar.
Mamaku perempuan berbahagia yang menemukan ayahku,cinta sejatinya.
Tak ada kisah cinta yg indah tpi semua cinta bisa dibuat indah….

Hasil cek up kesehatanku kemarin, tidak ada penyakit yang aku derita. Aku hanya sakit karena stres akibat kematian mamaku. Kisah ini seperti obat yang menyembuhkan. Cinta memang obat.

Baca Juga:  Perempuan, seberapa pentingkah engkau

True love never gone

Facebook Comments
Bagikan :