LelakiKu, pria berkaki kotor

0
297
Bagikan :

Tiap hari, aku jatuh cinta. Cinta karena biasa, sering pula cinta pada pandangan pertama.
Ketika lewat dari pelabuhan ttadisional Hulla menuju kalabahi, kota kecil di dalam teluk Alor, pulau kecil nan eksotik  di utara pulau Timor, aku tersentak pada pandangan yang tak biasa.
Pria dewasa muda yang tampan itu, duduk di tanah sambil utak atik hand phone di dalam genggaman tangan kekarnya.
Setelah di pinggir, sepeda motor itu kuparkir. Sambil menatap matanya dalam-dalam,  saya menyapanya dengan santun. Dia  menyambut sapaku dengan senyuman pertama, senyum yang menggetarkan naluri perempuanku..!!!
“mau ke mana?” Tanyaku dengan senyum. Dia hanya menatapku dengan tatapan “welcome” tanpa sepatah katapun. Lalu dengan bahasa isyarat seadanya, dia menunjuk pulau di seberang dengan sedikit ragu bahwa saya paham maksudnya.
Akhirnya saya mengerti bahwa dia sedang siap menyeberang ke pulau Buaya-alor, salah satu pulau kecil berpenghuni dari gugusan kepulauan Alor.

Saya tak tahu cara yang tepat untuk berkomunikasi dengannya. Tidak habis akal, kuarahkan saja kameraku dan mencari posiai yang tepat bagi kami untuk ber swafoto. Dia tidak merasa canggung. Merasa saya sangat familiar, dia tak ragu menempelkan keningnya dengan mesra pada keningku. Klik..klik, foto kami sudah jadi. Dia tersenyum, bahagia sekali. Apa artinya?
Dia manusia, punya naluri seperti saya. Butuh dianggap berarti dan diperlakukan sebagai Laki-laki oleh seorang perempuan.
Selembar rupiah akhirnya berpindah dari dompetku ke kantong bajunya. Kisah ini belum berakhir.

Dia harus melanjutkan perjalanan dengan perahu motor ke pulau seberang. Sebagai seorang pria yang cacat, kakinya yang lemah tidak bisa menopangnya untuk berdiri. Dia harus menyebrangi jalan raya, merangkak menuju pantai berlumpur sebelum akhirnya dibopong naik ke perahu untuk melanjutkan perjalanan.

Baca Juga:  Mujizat mengampuni

Semua calon penumpang di atas perahu tidak tahu tentang kebersamaan kami beberapa menit lalu. Aku yang berdiri menyaksikan sulitnya lelaki muda berusia 23 tahun itu, bersusah payah menemukan tempat yang nyaman baginya selama perjalanan beberapa menit, membelah ombak dan gelombang.

Pria cacat ini, “Pasti dia laki-laki pekerja keras. Tangannya adalah mulut untuk menggunakan bahasa isyarat sekaligus satu-satunya anggota tubuh yang dia gunakan untuk bekerja. Bagaimana jika dia bekerja pakai otaknya aja?? Ah, semua itu bisa saja terjadi,  jika ada fasilitasnya.” Telolet..telolett..telolett…!! Klakson Bis antar kecamatan yang melaju di hadapanku, membuatku kaget. Ternyata saya sedang larut dalam lamunan. Melamun tentang lelakiku, pria berkaki kotor tadi.

Di pulau ini, belum ada fasilitas bagi para disabilitas di tempat umum. Tanpa alas kaki, dengan kaki dan tangan kiri yang sangat kaku, dia akan tertatih dengan sebelah tangannya, melewati panasnya aspal untuk menuju pelabuhan dan itu menyiksaku dalam perjalanan selanjutnya.
Dompetku bisa bicara dengan dia hari ini tapi bagaimana dengan esok dan seterusnya??
Bagaimana jika dia jatuh cinta padaku?
Di depan kami, ada pohon bunga gamal yang mekar seperti rangkaian sakura putih, menawan…

Kembali kulihat lagi gambar kami dalam galeri kameraku. Aah, masing2 kami pada tempat kami. Walau mungkin kami saling mencintai, dia pada tempatnya, aku pada tempatku karena memang cinta tak selamanya memiliki…!!
Laki-lakiku, mataku belum kuat sekuat hasratku untuk melihatmu.

Kamipun mengakhiri perjumpaan itu dengan melanjutkan perjalanan kami.

Ya ini hanya sebuah perjalanan yang mungkin meninggalkan kesan bagimu juga. Lakukan sesuatu untuk mereka yang kurang beruntung di sekitarmu, pembacaku.
❤❤❤
Hulla, Alor 21 oktober 2016
#latepost

Facebook Comments
Bagikan :