Kisah manis, masa belajarku dari rumah.

0
420
Bagikan :

Kisah manis, masa belajarku dari Rumah.

Aku seorang guru. Sudah lebih dari empat belas hari, sejak 24 Maret 2020, aku karantina mandiri di rumah karena pandemic Corona dari virus covid-19. Puluhan ribu orang di seluruh belahan dunia sudah terbunuh, sejak virus ganas ini ditemukan pertama kali pada bulan Desember 2019, dari kota Wuhan-Cina.
Kami harus bekerja dan belajar dari rumah. Jenuh dan stres akibat terkurung dalam rumah tanpa melakukan kontak sosial dalam bentuk apapun.
Dampak positif dan negatif sama-sama belum diketahui ketika keputusan ini diambil mendadak oleh pemerintah Indonesia karena virus ini sudah masuk dan menyerang Indonesia.

Negara mengumumkan keadaan darurat dan semua warga Negara harus bekerja dari rumah (work from home) demi memutus rantai penyebaran virus paling mematikan sepanjang sejarah kesehatan dunia ini.

Setelah lelah menuntun siswa asuhanku belajar online, aku keluar rumah untuk berjemur matahari sore. Bagi saya sendiri, belajar dari rumah ini bukan hal pertama. Sebelumnya, aku pernah punya kisah yang sama.A Akumemilih berjemur di sekitar rumahku yang masih ditutupi hutan. Aku berswa-foto sambil ingat almarhum papa. Orang tua bijak itu, sudah memulai metode belajar dari rumah atau aku suka menyebutnya sekolah rumah bagi aku, putri sulungnya,  jauh sebelum seorangpun dari semua sahabat bahkan pejabat atasan di jamannya berpikir tentang pola pendidikan “belajar dari rumah” ini.

Aku sendiri, sampai usia 10 tahun tidak menetap dan belajar di salah satu sekolah formal. Alasannya karena saya selalu ikut ayah yang guru dan sering berpindah-pindah. Saya juga tidak mudah menangkap cara merangkai huruf dalam vocal alias membaca sehingga papa memilih mengajariku secara mandiri di rumah.
Papa dan mama bergantian mengajariku tetapi karena tidak secepat adik saya yang pandai, papa mengubah metode. Tak ada jadwal khusus untuk belajar. Beliau membiarkan aku bermain apa saja termasuk panjat pohon. Bahkan suatu saat, saya terjatuh dari pohon dan paha kiriku, cidera. Saya tidak dibawa ke dokter. Seorang nenek tukang pijit, membantuku berdiri setelah dipijit beberapa hari.
Adikku diberi pelajaran Matematika bahka dia sudah bias menghafal perkalian di usia 5 tahun. Aku lebih tertarik mengintip pembicaraan orang tuaku terutama jika mereka kedatangan orang-orang besar.

Pembicaraan tentang informasi terbaru dan konspirasi para atasan mereka selalu saya dengar dari balik kain pintu. Aku juga suka memperhatikan, perbedaan kerja antara papa dan mama. Papa suka berkebun, mama sangat trampil dalam merajut benang dan menenun kain. Kami anak-anak diajari juga tentang pekerjaan untuk anak laki-laki dan apa yang boleh dilakukan anak perempuan. Tugas utamaku sebagai anak sulung adalah menjadi inang asuh bagi adikku.

Ketika mamaku merajut kain meja dan sprei dari benang HP dan wol, saya selalu berhenti bermain dan memperhatkan jemarinya dengan seksama. Kalau beliau pergi sebentar, aku akan langsung mengambil alih pekerjaannya dan melanjutkan rajutannya. Kepergok merajut benang, bukannya dimarahi, papa menganjurkan mama untuk membeli peralatan merajut untukku juga. Beberapa dompet rajutan, selendang dan tas pinggang rajutanku, mendapat apresiasi dari papa.

Mama sering mengeluh karena saya tidak tertarik sama sekali dengan urusan dapur. Ayahku bilang, saya memiliki daya imajinasi yang tinggi dan tidak usah diempang dengan pekerjaan dapur. “mama, lodi itu punya otak. Dia akan mampu memanajemen pekerjaan di dapur”, begitu komentar papaku.

Baca Juga:  Hallo Corona, apa khabarmu?

Saya tidak ingat dengan pasti, kapan saya bisa membaca. Yang saya ingat adalah sebuah brosur biru berisi gambar kereta api dan seekor kuda. untuk menjelaskan maksud brosurnya, si penulis menyertakan sebuah renungan tentang kebebasan dalam koridor masing-masing. Saat itu memjelang  usia 10 tahun dan ibu guru sekolah minggu yang memberiku brosur itu melibatkan kami dalam permainan drama Natal yang berkesan.

Saat itu tiba. Papa sudah bebrapa bulan pindah masuk ke kota sebagai guru. Kini saatnya saya harus masuk sekolah disebuah sekolah Dasar di pinggiran kota Kalabahi, tempat ayahku mengajar. Sambil mengenal lingkungan, papa memperhatikan aku dengan ketat. Saya masih suka bermain dan tidak suka membaca kembali buku pelajaran dari sekolah. Sebaliknya, saya suka mencari dan membaca buku apa saja yang saya temui. Mulai dari guntingan Koran, majalah kesehatan langganan papa sampai amplop suratpun saya baca. Baru beberapa waktu masuk sekolah, papaku dimutasi lagi ke pedamalan. Apa hendak dikata, saya harus pergi bersama papa karena mamaku memiliki bayi dan tidak bisa mendampingi papa ke tempat tugas yang baru.

Di daerah pedalaman itu, aku seperti tumbuh dalam sebuah lahan pembentukan karakter dan intelektual yang menakjubkan. Berjalan kaki sepanjang hari, bermalam di rumah penduduk lalu melanjutkan perjalanan pada esok harinya, kira-kira 32 jam, aku dan papa berjalan kaki.

Saya mengenal banyak kampung, orang-orangnya, makanannya, hewan peliharaannya, bahkan tentang warna kulit mereka yang sangat sesuai dengan ekologi tanah Alor. Di Sekolah yang baru, saya tidak bisa membaca lagi karena tidak punya buku sama sekali, selain buku Matematika, pegangan guru milik ayah saya. Saya tidak menyentuh buku itu.
Setiap pulang sekolah, kami anak kompleks sekolah bermain di alam. Memanjat buah apel di kebun sekolah, memetik buah nangka dan makan diam-diam kemudian kami diinterogasi oleh penjaga sekolah karena getah nangka dan bau harum yang tak hilang dari tangan dan mulut kami. Hampir setiap hari, kami berkejaran di pematang sawah, menangkap berudu katak, berenang di sungai, menangkap udang dengan perangkap bambu, membakar umbi keladi di rumah sawah bahkan ikut mengejar tikus di sawah bersama warga.
Sekali waktu, kami menelusuri sungai mencari sayur Pakis ketika kaki mungilku digigit lintah. Sampai di hulu sungai, di ketinggian, aku melihat ke kompleks perumahan, kebetulan ada seseorang memotong kayu bakar. Bunyi yang terdengar, terpantul kemudian dari ayunan parangnya. Papa menjelaskan bahwa kalau mau pintar dan tahu banyak tentang lintah dan bunyi, aku harus banyak membaca buku. Karena tidak punya buku, saya hanya memperhatkan segala sesuatu dengan seksama kemudia membuat pertanyaan dalam hati dan sedapat mungkin menemukan jawabannya.

Papa adalah tempat bertanya yang membosankan karena beliau selalu tidak punya waktu untuk menjawabnya, beliau menyuruh saya mencari tahu sendiri. Saya mulai terbiasa bermain sambil belajar.
Karena selalu pergi bersama papa ke daerah pedalaman, saya tidak tahu, berapa tahun saya duduk di bangku sekolah dasar dan berapa sekolah sudah kami datangi. Yang saya tahu, sebelum tidur malam, saya selalu diberi ulangan setelah ibadah malam. Materi ulanganku biasa seputar apa yang saya tahu hari itu. biasanya papa mengajak aku bercerita dan mengajukan bebrapa pertanyaan dan kami larut dalam diskusi. Walau tidak terprogram dalam Rencana Pembelajaran, bagi saya, itu yang disebut ulangan.

Baca Juga:  Pesanmu tersampaikan guruku. Selamat hari Pendidikan Nasional Indonesia ke-131

Papa tidak kesulitan mengajariku karena walau agak lama diajari membaca tetapi setelah tahu membaca, saya tidak pernah lepas dari buku bacaan yang saya dapat dari rak buku yang terbatas di kantor sekolah. Selain itu, saya juga suka nguping kalo papa mendengar siara Radio. Papa pendengar setia Radio Ausralia, Malbourne.

Keluargaku mengatakan bahwa aku sangat mirip papa. Bisa saja karena papa selalu membawa saya ke mana saja beliau pergi dan itu telah memungkinkan kharismanya saya rekam bulat-bulat.

Usiaku sepuluh tahun waktu papa memutuskan saya harus tinggal di kota dan mengikuti ujian SD untuk lulus dan melanjutkan ke SMP. Perlu saya gambarkan bahwa di daerah pedalaman Alor, saya makan semua jenis makanan yag ditanam oleh orang tua, selain gula pasir susu, garam dan ikan. Papa selalu membawa kami ke kota, pergi ke studio foto untuk membuat gambar kami sekeluarga ( Sayang sekali tak satupun foto masa itu yang masih tertinggal) Kami kemudian pindah dari satu sekolah ke sekolah lain yang ditempuh oleh kami dengan berjalan kaki. Papa selalu menganjurkan mama untuk tidak membawa perkakas rumah setiap kami pindah. Alasannya sepele. Selain berat diangkat oleh tenaga manusia, kami diajarkan bagaimana memulai hidup baru di tempat baru dengan sederhana dan membangun relasi dengan warga.

Kini aku harus tinggal tetap di kota untuk sekolah dan lanjut ke sekolah menengah, dengan mewarisi kebiasaan bertanya dan menjawab sendiri semua pertanyaan. Aku mulai belajar sendiri, mencari tahu tentang apa saja. Tapi karena ketiadaan fasilitas perpustakaan di kota kecilku pada masa itu, saya selalu membaca buku apa saja yang saya temui bukan untuk menjawab pertanyaanku tetap untuk tahu apa yang tertulis di dalam buku. Aku sering meminjam buku bacaan miik pamanku yang sedang belajar di Sekolah Menengah Atas dan mendengar cerita tentang kota besar seperti Kupang dan Jakarta dari mereka yang pulang dari rantau.

~Pemandangan traumatik yang mengawali.~

Aku baru saja diterima menjadi siswa SMP di kotaku, kota Kalabahi. Aku lahir di Kuneman, daerah pedalaman Kabupaten Alor, Pulau kecil nan  cantik, di utara pulau Timor, Propinsi Nusa Tenggara Timu.

Bergegas mengikui masa orientasi di sekolah, ketika pagi itu saya melihat dua orang perempuan berjalan beriringan dengan wajah panik dan takut dari arah berlawanan denganku. Tidak berapa lama, seorang pria tambun mengejar mereka dari belakang dan menarik salah seorang di antaranya, menggebuk dengan leluasa tanpa ada yang melerai. Perempuan lainnya berdiri di kejauhan dan menjerit meminta bantuan. Tapi karena pria itu membentak dengan keras, perempuan kurus yang mengenakan kain itu hanya bisa menangis dan mengusap mulutnya yang berdarah. Dengan suara keras, laki-laki itu membentak, “kau kembali segera ke rumah dan tidak boleh mengeluh. Kau masih isteriku yang sah. Kau sudah dibelis. Keluarga dan ibumu tidak punya hak untuk membawamu pergi.”
Peristiwa itu menjadi pengalaman traumatic bagi aku. Ini kali pertama aku mendengar kata “hak” dalam sebuah pertengkaran dari seorang pria berkuasa.

Baca Juga:  Semanis dia memanggilku mama, kuberi dia nama Laharoi

Ketika ibuku mendengar cerita ini beliau hanya berkata, “perempuan yang sudah menikah sudah menjadi hak milik suaminya.” Tanpa penjelasan lanjutan, ibuku mengatakan, “kau tidak boleh melawan suamimu agar kau tidak dipukul seperti perempuan itu.” Aku terdiam. Bergelora. Ada pemberontakan besar dalam hatiku, yang tidak diketahui oleh siapapun. Walau akhirnya saya memilih jurusan Keguruan dan Ilmu pendidikan di perguruan tinggi, rupanya pemandangan pagi itu adala awal yang membawaku menjadi seorang pekerja social yang militan dalam upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak di masa dewasa nanti.

Selesai sekolah menengah, aku berangkat kulih ke kota Kupang. Terpisah jarak dan waktu, aku tidak tahu apa yang terjadi pada ayahku.
Rupanya secara periodik, beliau selalu mencari anak usia sekolah yang sudah putus sekolah. Mengajaknya tinggal bersama beliau di kompleks sekolah dan menyekolahkan mereka sampai yamat sekolah dasar. Hampir semua anak yang pernah tinggal bersama papaku, berhasil dalam hidup mereka.
Selesai kuliah, saya kembali ke rumah. Kini papa adalah guru senior.
Secara berkala, aku masih diajak berkunjung ke pedalaman. Beliau selalu menjadi penggerak pembangunan di desa yang bekerja secara sistematis. Sebelum membuat kebun sayur beliau lebih dahulu menyediakan kolam dan membuat pancuran air dari bambu. Ada skala prioritas dalam setiap rencana dan pekerjaannya.

Temanku bertanya, siapa yang mengajarimu membaca? aku selalu bilang, aku yang sekarang adalah produk Sekolah di rumah, yang dibangun oleh papaku. Mimpinya tentang seorang perempuan moderen yang mandiri, trampil dan bisa ambil bagian dalam pergaulan internasional, dia bentuk dari dalam rumah. Dan aku adalah ijasah Profesor bagi papa dan mamaku, almarhum.

Lama setelah papaku meninggal dunia, aku ingin mengingat kembali, berapa benda berharga yang pernah aku berikan kepada beliau. Aku bahkan tidak punya cara untuk mengenangnya selain pengalaman kecil yang menjengkelkan. Sekali waktu aku belikan sebuah baju mahal untuknya tetapi papa malah memberikannya kepada seorang sahabatnya. Katanya beliau tidak suka pakai baju mahal.

Ketika menerima tabungan pensiunnya, beliau membelikan sebuah Jacket elegan untuk saya. “ini jeket untukmu. kau suka baju warna hitam, bukan? Ingatlah kalau sudah sukses, jangan lupa pada bangsamu. mereka msih tertinggal di belakang”. Seperti beliau, jeket hitam itu tak awet aku pakai. seorang sahabat yang paling butuh, menurutku sudah menerima dari jeket hitam itu. Menggelitik juga.

Rumahku sekolahku, Ayahku, guruku. Beliau hidup sederhana dalam budi yang tinggi. Bagiku, tak ada cara yang paling tepat untuk menghargai jasa seorang ayah selain aku selalu membagi waktu, pergi ke pedalaman, menemui orang-orang kecil dan menginspirasi mereka. Di atas jejaknya, aku melangkah. Aku bukan guru yang hebat. Aku hanya guru yang menginspirasi.
Dampingi anak anda Belajar dengan santai dan beri dia kebebasan untuk menemukan tujuan hidupnya, mulai dari rumah, tanpa batas usianya.
Bekerjalah dengan santai, sobat.
Ini kisahku, ispirasi dari manisnya Sekolah di rumahku, sekolah tumbuhnya gelora cintaku.

Facebook Comments
Bagikan :