Menenun benang-benang harapan. Kisah sukses penenun tradisional, Alor

0
233
Bagikan :

Catatan lama yang menginspirasi.

Tak pernah ada seorang individu yang mau terlahir dalam keluarga yang ganjil. Kehilangan ayah sejak usia balita adalah berkat sekaligus kutuk bagi seorang perempuan yang lahir di desa. Tapi apa yang terjadi kalau kerasnya kehidupan justru memberikan warna lain dalam kehidupan seorang wanita? Apakah anda akan mengatakan bahwa itu kebetulan? Keberuntungan? Ataukah sebuah keyakinan yang diupayakan dengan usaha dan kemauan yang keras untuk mengubah kepahatian hidup menjadi kebijaksanaan dan kemudian bisa menjadi cermin bagi perempuan lainnya? Tidak perlu menjadi perempuan berpengaruh atau berjabatan tinggi untuk menginspirasi orang lain. Dedikasi dan keikhlasan justru memberi nilai tersendiri bagi dunia yang mulai kehilangan nilai, sekarang.
Mama Anwar, demikian biasa beliau dipanggil. Perempuan berusia 57 tahun adalah isteri dari Bapak Anwar Ali, pensiunan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan kantor kementrian Agama Kabupaten Alor. Terlahir sebagai Suratna Adang, anak perempuan di kampong Bampalola, tentu saja beliau tak
pernah bermimpi untuk suatu saat nanti akan didatangi seorang penulis, yang mau menuliskan kisahnya untuk menjadi cermin bagi perempuan lain. Beliau baru saja bersama suaminya pulang dari Tanah suci, menunaikan ibadah haji pada tahun 2013 lalu. Sengaja saya terbitkan ulang tulisan ini hanya untuk sekedar mengingatkan kita kepahlawanan para perempuan menopang keluarganya. Seperti mama Anwar, di Alor, saya bertemu banyak perempuan penenun ataupun petani, mereka bekerja penuh waktu untuk menopang keluarganya. Berikut ini, sepenggal kisah perjalanan hidup, mama Anwar.

Setelah menamatkan pendidikannya di kelas 6 SD pada tahun 1971, tamatlah sudah riwayat pendidikan formalnya. Selain karena sang ayah telah meninggal dunia, pada masa itu, tak biasanya seorang anak perempuan dari kampong, melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP dan seterusnya. Oleh karena itu, beliau mulai membantu sang ibu berkebun dan mengurus rumah tangga. Setiap hari pikirannya kacau karena berpikir tentang masa depannya. Setiap hari beliau melihat Ibu dan kakanya menenun kain untuk dijual. Tanpa menunggu kapan akan diajari, beliau mulai mengumpulkan sisa-sisa benang yang terbuang dari tenunan ibunya, menyambung satu persatu menjadi untaian benang, lalu memulai proses menenun sebuah kain. Alhasil, beliau sudah bisa menenun di usia sekitar 17 tahun.
Memiliki ketrampilan menenun, Suratna muda ini mulai bekerja secara mandiri. Keuletanya ternyata dibaca oleh seorang pemuda dari kampungnya juga yang sudah terlebih dahulu diterima sebagai Pegawai Negeri yakni Bapak Anwar Ali.

Baca Juga:  Semanis dia memanggilku mama, kuberi dia nama Laharoi

Kisah cinta mereka berujung di pelaminan. Menikah. Sebagai pasangan muda, Bapak Anwar memanjakan isterinya dengan cara tidak mau mama Anwar melanjutkan pekerjaan menenunnya. Meski demikian, proses belajar yang berasal dari kemampuan inquirinya, mendesak mama Suratna untuk membujuk suaminya agar mengijinkannya kembali menenun. Akhirnya demi menyenangkan perasaan sang isteri, kesempatan seluas-luasnya diberikan oleh sang suami dan mama Suratna mulai menenun.
Tenunan pertama, kedua dan seterusnya, semakin banyak tangan trampil yang satu ini menghasilkan. Bagaimana tidak, beliau hanya membutuhkan waktu 3 (tiga) hari untuk menyelesaikan selembar kain dengan kwalitas warna dan daya tahannya sebagai hasil home industry yang dipercaya pelanggan.

Akhirnya sedikit demi sedikit, rupiah mulai terkumpul. Menenun, melahirkan dan membesarkan anak adalah tiga pekerjaan yang sekaligus dikerjakan oleh mama Anwar tanpa omelan. Terkadang juga usahanya maju mundur bersama beberapa kelompok perempuan penenun.

Perempuan berusia setengah abad ini, masih sangat gesit dan cekatan ketika penulis menghabiskan waktu beberapa jam bersamanya di rumah mereka yang tentram di bilangan desa Adang buom, Kec. Teluk Mutiara. Sang suami, Bapak Anwar yang menghargai pekerjaan istrinya, justru memberi cinta dan saran kepada sang isteri agar uang hasil dagangannya ditabung. Sedikit-sedikit menjadi bukit. Biaya pendidikan anak-anak, urusan keuarga bahkan cadangan anggaran belanja rumah tangga, tidak pernah dikeluhkan oleh perempuan yang tidak memiliki ijasah sekolah menengah ini.

Alhasil, dua di antara empat orang anaknya, sekarang telah menjadi Pegawai Negeri Sipil dan memiliki keluarga sendiri. Mereka memiliki empat orang anak kandung dan tiga orang anak sambung.

Ketika suaminya Bapak Anwar pensiun dari Kementrian Agama, berdua mereka menunaikan niat suci, pergi menunaikan ibadah haji. Ketika ditanya, apa obsesi mama Anwar sejak muda? Beliau menjawab dengan penuh kesederhanaan, “saya hanya pertaruhkan semua keinginan saya kepada sang Khalik. Saya merasa tidak punya apa-apa tapi saya hanya percaya, Allah akan memberikan rezeki dan kemurahan kepada saya”
Beliau tidak tergabung dalam sebuah kelompok tenunan seperti teman-temannya yang lain, beliau adalah contoh usaha mandiri yang berhasil.

Baca Juga:  Perempuan yang menari. Ada cinta di sini.

Memang, untuk ukuran Alor, berhasil dalam usaha mandiri tak selalu bisa dinikmati oleh banyak perempuan. Beberapa perempuan harus puas hanya menjadi babu bagi suami dan keluarga, sepanjang usianya. Tetapi kisah Bapak dan mama Anwar ini memberiku pelajaran bahwasanya Suami dan isteri haruslah menjadi pasangan yang saling mendukung dan bermitra dalam membangun hidup mereka.

Selalu ada kemauan, ada jalan, tapi anda perlu dukungan dari orang yang anda cintai. Secara naluriah cinta dan kesetiaan seorang suami akan sangat mempengaruhi keberhasilan usaha seorang perempuan. Kalau perempuan memiliki uang, dia bisa menyekolahkan anak-anaknya pada jenjang yang lebih tinggi, menopang keluarganya lalu memutuskan rantai kemiskinan. Perempuan desa ini menjadi seorang Kartini bagi keluarganya. Kini mereka adalah nenek dan kakek dari beberapa cucu.

Apakah anda ingin tahu apa kata-kata candaan mereka berdua mengisi hari-hari sibuk walau sudah sama-sama tua? Bapak Anwar selalu memuji sang isteri dengan kalimat, “saya beruntung memilihmu menjadi isteriku…”, demikian pula mama anwar, “saya beruntung memilihmu menjadi suamiku”, wah, mesranya bikin cemburu. Benar sekali semboyan lama ini, di belakang seorang perempuan sukses, selalu ada pria hebat dan sebaliknya.
Selamat menanti hari Kartini untuk para perempuan mandiri…

God bless you

Facebook Comments
Bagikan :