Menggambar Pagi

0
253
Bagikan :

Di ufuk pagi kunikmati hari, merenung langkah sebelum melangkah,

terasa hikmah memenuhi kalbu,
Sekilas pagi bayangmu berlalu.
Kokok ayam dan kicauan burung,
di alam desa yang menemaniku menghabiskan hari yang berlalu.
Terlalu cepat, secepat dirimu hilang dari dari dekapku.
Seperti anak panah di ujung busur lelaki, bidikannya tiada meleset.

Kusematkan cinta pada jendela.
Waktu tak bisa berkompromi ketika aku benci pada bayang dari pelupuk mataku.
Begitu kuat, sekuat hadirnya sang kumbang dikuncup layu. Apa yang kau cari wahai si pengembara fana? seberapa kau mampu mengarungi Sahara untuk kembali di halamanku? Bukankah telah kau tinggalkan?

Apakah faedahnya menabur benih di atas cadas yang gersang jika Berharap rusa yang cantik jatuh ke dalam perangkapnya?
Si Celah cadas itu terlalu kuat, untuk menahanmu sampai kau hangus termakan usia.

Kubiarkan semuanya mengalir mengikuti arus sang Maha Khalik, agar harapku tak terisi jawabanMu. Sia-sia.

Menakjubkan. Kau puaskan hausku, dengan air telagaMu. Aku takluk pada kasihMu kasih akan air yang tak pernah kering.

Jangan siksa aku dengan kerinduan, kumbangku.
Ada cahaya membatasi kita.

Walau masih kugambar wajahmu, rindu itu bukan milikku.
Cinta sejati tersimpan di ujung hati, dan kita tak sanggup mengelak garis jalan sang Ilahi.

Diufuk barat nanti, kita akan kembali membuka hari yang telah pergi, agar hidup tidak membosankan, agar ada cerita tentang kegagahan, ketika keuntungan segalanya hanyalah kepahitan dan malapetaka.

Dengan cinta yang besar, kuikhlaskan jalan ini, agar kutemukan alasan untuk menang,menang melalui pertandingan iman karena hakikatnya hidup adalah sebuah perjalanan, perjalanan spritual. Aku akan melanjutkan hidupku sesuai nilai spritual yang saya kenal.

Baca Juga:  Namaku Cinta, ketika kau pergi.

April, 2018
For my old friends.

Home

Facebook Comments
Bagikan :