Namaku Cinta, ketika kau pergi.

0
273
Bagikan :

(Diangkat dari kisah nyata. Seorang lelaki tua tak berdaya,di tangan lelaki tua lainnya dalam sebuah sal rawat inap,rumah sakit)

Gelapnya sangat pekat. Malam yang berawan, langit seolah tak berbintang. Diremang cahaya lampu lima belas Watt di sudut rumah itu, aku mengenalnya sebagai wajah dua anak kecil. Sambil bergandeng tangan, keduanya berjalan sambil mengendap, mungkin mereka takut sesuatu yang asing bisa menyergap nya. Setelah sepeda motorku aman di parkiran, saya bergegas ke sal rumah sakit itu, hendak membesuk seorang bapak yang sedang sakit.

Berpapasan begitu saja, langkahku tersontak membaca mimik ragu pada wajah lugu kedua bocah kecil itu. Naluri keibuan mendorong lengan kekarku untuk merangkul pundak salah satu dari mereka dan bertanya: “Mau ke mana nak?” Tanyaku serius.
Tanpa menjawab, si kakak memberondongku dengan pertanyaan urgen: “Tanta, tahukah? apotik untuk resep obat pasien nginap iini, di mana?”
Aku mengarahkan telunjuk pada sebuah antrian panjang di depan gedung terpisah di samping kami berdiri.
“Itu di sana.” Jawabku.
Karena dibatasi waktu besuk sampai pukul 22.00wita, aku buru-buru pergi.
Baru saja duduk bersila di lantai bersama pengunjung yang lain dan hanyut mendengar cerita pasien yang baru selesai menjalani operasi usus buntu itu ketika kedua bocah ini melangkah masuk ke ruangan sal nginap yang sama. Mereka menuju tempat tidur di sebelah sana. Rupanya bersama seorang Kakek renta, mereka sedang menjaga seorang kakek lagi yang sedang terbaring lemah dan terus mengeluh sejak tadi.

***
Di atas ranjang, lelaki tua itu resah gelisah…Tumor prostatnya sudah stadium lima dan dia terlihat sangat tersiksa. Tidak bisa buang air kecil. Dia mengeluh sakit dada, sakit, pinggang. Setelah menyerahkan obat yang dibelinya kepada perawat jaga, kedua bocah itu menuju tikar yg dibentangkan di lantai oleh seorang kakek lain yang sejak tadi mondar mandir kebingungan. Mereka bertiga duduk bersila, nyaris tak mengeluarkan sepatah katapun.

Baca Juga:  LelakiKu, pria berkaki kotor

Merasa mereka telah duduk dengan nyaman, kudekati dua sahabat bocahku, menyodorkan Beberapa bungkus permen.
“Obat untuk kakek sudah diambil ya nak?” Suaraku mengalihkan kesunyian mereka.
“Sudah tanta. Bapa pung obat su kasih di bidan. Nanti dorang yg kasih minum bapa”. Jawabnya lengkap dalam logat Melayu Alor yang kental.

“Maksudnya bagaimana nak?? Pasien ini kakekmu atau ayahmu??”
Lalu si kakek lain yang duduk bersila di sampingnya menjelaskan status mereka secara detail.
“Pasien yang sakit ini, anak mantu saya, ibu.”
“Ooh???” Kerongkonganku tersekat. Pikiranku cepat mengolah maksud pria tua ini. Artinya pria tua berusia 67 tahun yg terbaring lemah itu adalah suami anak gadis lelaki tua ini, dan ayah dari dua bocah yang adalah cucunya. Lugu dan polos, sepolos wajah kakek tua di samping kedua bocah itu yang setia menemani sang ayah yang sekarat tadi, hanya menatap mataku dalam-dalam. Dalam hati aku ingin lari dan memanggil orang-orang perkasa di sekitar ku, segeralah ke sini, lihatlah orang-orang lemah ini…!!!

***
Mencuri sedikit perhatiannya, saya dekati pasien tadi. Ingin aku menggenggam tangannya, sekedar memberinya kehangatan, biar dia tahu, dia tidak sendiri.
Mertua rentannya yang memperhatikan gerak langkahku, memberiku penjelasan lanjutan.
“Bapak ini sudah empat kali keluar masuk rumah sakit, bu. Oktober Tahun kemarin, beliau dirujuk ke Kupang. Dua Minggu setelah dirawat, dokter menyuruh mereka kembali ke Alor karena tidak ada perubahan signifikan. Menurut dokter, penyakit ini hanya bisa dioperasi di Jawa. Tapi kami tak punya biaya”, kata pak tua itu panjang lebar.

Seolah tak mendengar penjelasannya, sy kembali bertanya; “di mana isterinya?”
Lelaki tua itu menjawab: “isterinya sekarang di kupang, bu”.
“Kerja atau sakit pak?”lanjutku
“Begini ibu. Isterinya adalah anak saya. Ketika keluar dri rumah sakit di Kupang, mereka naik kapal untuk kembali ke alor. Sesampainya di atas kapal feri, sang isteri minta ijin untuk membeli air di pelabuhan. Isterinya pergi tanpa membawa apa-apa, selain dompetnya. Sampai kapal itu berangkat, si isteri tak kembali. Ditelpon, nomornya tidak aktif. Akhirnya bapak yg sekarat ini pulang sampai di alor atas berkat belas kasihan para penumpang yang duduk bersebelahan dengan beliau di dalam kapal itu. Karena saya adalah mertuanya, maka beliau minta diantar ke rumah saya, begitu tiba di Kalabahi, ibu”
Apakah bapak ini tidak punya anak-anak atau keluarga lain?

Baca Juga:  Jangan menyerah ketika kau merasa menyerah itu, mudah.

***
Berawal dari niat mencari pekerjaan di kota, perjalanan Uni, si perempuan desa berumur 18 tahun ini akhirnya berakhir setelah diterima dan bekerja pada seorang saudagar rumah makan yang kaya. Cantik dan rajin, membuat anak sulung sang saudagar kecantol. Beberapa lama bekerja, perut si Uni mulai membuncit. Dalam rahimnya sudah hidup orok dari Boy, majikannya. Boy tidak bisa menikahi Uni karena Boy sudah berkeluarga. Agar aib keluarga tidak dibawa keluar, maka saudagar kaya ini memutuskan untuk menikahi Uni dan mengakui cucu dalam rahim Uni sebagai anaknya. Waktu terus berlalu. Sang saudagar berusia 58 menjadi pahlawan cinta yg melindungi Uni, sang gadis belia berusia 19 tahun itu. Hampir setiap tahun si isteri muda belia itu terus melahirkan anak. Sudah empat orang anak yang Uni lahirkan. Hubungan sang saudagar dengan Boy anaknya, tentu saja tidak bagus.

Lebih dari setahun, saudagar ini tidak melanjutkan usahanya sebab sakit. Pengobatan yang mahal sudah menguras habis semua lumbung yang dikumpulkan sejak masa muda. Dalam lima bulan terakhir ini, sang saudagar tua hanya terbaring lesu dalam kemiskinan akibat tumor prostat yg tk bisa diobati.
Sang isteri belianya, seolah merdeka dari ikatan cinta sang saudagar yang tidak berdaya ini.
Sakitnya mungkin bisa ditahan tetapi cinta yang mengutuki, sungguh membelenggunya dengan beban yang lebih berat. Jika saja sang isteri mau diajak ngobrol lewat telpon genggamnya, mungkin bisa terobati kerinduan atau sedikit meringankan penderitaan nya.
Lelaki malang ini belum bisa tidur ketika saya melangkah keluar dari kamar rawat inapnya, malam itu.
***
Cinta adalah kutukan baginya. Lelaki renta itu masih beruntung memiliki mertua seumurannya yang mau bertanggung jawab atas nyawanya selama dia bertarung melawan maut.
Apa hendak dikata?
Yang namanya cinta adalah kebenaran.
Cinta bisa mengubahkan,
Cinta bisa pula membunuh.
Ada cinta yang kulihat dalam kisah mertua dan menantu sebaya di atas.
“Walau tak ada keluarga dekat pasien ini, saya merasa dia adalah suami anak saya dan ayah dari empat orang cucu saya, ibu. Apapun keadaanya, saya akan menjaganya dengan penuh kasih sampai akhir penderitaannya. Ini orang juga ciptaan Allah.”, demikian sang mertua mengakhiri obrolan kami.
Saya sendiri masih merenungkan hal ini. Berapa lama uang dan kekuatan bertahan? Apakah itu lebih bernilai dari cinta sejati??

Baca Juga:  Perempuan dan jaman. Kartini di tengah pandemi.

Orang beruntung adalah orang yang menemukan cinta sejati dalam hidupnya. Cinta sejati adalah cinta dan tanggung jawab yang seiring sejalan, sampai maut memisahkan.
Jika kau menemukan Cinta tapi tanpa tanggung jawab, untuk apa?
Tak ada mantan ayah, mantan mertua atau mantan cucu. Dunia hanya mengenal mantan suami/isteri.
Seperti dua sisi mata uang, Cinta dan tanggung jawab adalah dua hal berbeda tapi sama nilainya.
Begitulah cinta dan cinta memang begitulah.
Hiduplah dengan keyakinan bahwa apa yang kau taburkan akan kau pungut pada masanya, berlipat ganda.

Facebook Comments
Bagikan :