Perempuan dan jaman. Kartini di tengah pandemi.

0
330
Bagikan :

Pandemi Covid-19 belum menunjukkan gejala berkurang atau pegi. Sudah lebih sebulan, pemerintah mengamanatkan karantina. Bekerja dan belajar dari rumah. Ini sangat mencekam, sampai-sampai pemerintah mengeluarkan larangan mudik agar bisa memutuskan mata rantai penyebaran virus asal Wuhan-Cina ini. Meski demikian,kau akan melihat pemandangan yang berbeda setiap pagi, terutama di daerah yang termasuk kategori tertinggal.

Saya menyebut mereka itu, Perempuan penggerak pembangunan. Mereka mengikuti aturan protokoler pemerintah sekaligus tetap menjaga mata rantai ekonomi mikro agar tidak mati. Mereka adalah penggerak ekonomi di pasar lokal.
Foto ini diambil pada pagi hari, tanggal 21 April 2020, bertepatan dengan perayaan hari Kartini,tokoh Emansipasi perempuan Indonesia.

Ini mungkin bukan mimpi ibu Kartini,tetap para perempuan pedagang yang tetap bekerja di luar rumah ini adalah wujud dari arti kebebasan yang diperjuangkan pendahulunya. Kartini memperjuangkan Kebebasan sebagai kepentingan perempuan secara Nasional, mereka ini memperjuangkan kehidupan mereka secara domestik. Perempuan bisa bekerja dan jadi apa saja

Saya pernah melakukan pengamatan yang hati-hati selama bertahun-tahun dengan cara tinggal dalam komunitas mereka. Mereka ini hidup sebagai Para perempuan yang tinggal di pinggiran kota dan bekerja di pasar tradisional kota. Mereka kurang memperhatikan kesehatan mereka sendiri. Pengetahuan tentang gizi keluarga, mereka perlukan juga. Sejauh pengamatan saya, Orientasi mereka masih terpola pada konsep “memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya agar perempuan dibawahnya bisa mencapai standar teratas. Memiliki keinginan besar yang kuat dalam usaha yang lemah. Mereka tidak punya waktu untuk bersantai bersama keluarga di rumah yang konsumtif. Mereka juga rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Tulisan ini diturunkan untuk menjadi catatan bagi semua perempuan agar kita terhubung satu sama lain, saling mendukung dan menopang dalam perjuangan untuk hidup. Jika anda berbelanja di sini atau di tempat seperti ini, sebaiknya anda menggunakan mental belanja di mall atau supermarket lainnya. Jangan tawar menawar untuk tiba pada harga paling rendah. Membeli dengan harga paling rendah di sini, tidak akan pernah memutuskan rantai kemiskinan bagi perempuan pedagang.

Baca Juga:  Namaku Cinta, ketika kau pergi.

Anda yang punya uang, perlu menopang usaha mereka dengan cara berbelanja karena walau sudah jaman digital,masih banyak perempuan yang masih bekerja secara manual tanpa tabungan untuk masa depan, bahkan mungkin tanpa jadwal liburan mahal apalagi istirahat dan bersantai.

***
Para perempuan ini, lebih takut keluarganya tidak bisa hidup akibat karantina daripada kemungkinan mereka harus mati terpapar Covid-19.
Terima kasih untuk mereka yang sudah menyediakan air cuci tangan, masker dan hand sanitizer bagi para perempuan ini, kalau Memang sudah ada orang yang menyumbang. Ketika berbelanja, luangkan waktu untuk membeli jualan mereka.

Wartawan Demas Mautuka, telah merekam realita ini melalui kiriman gambar dari salah satu pasar tradisional di wilayah Nusa Tenggara Timur. Mereka adalah para perempuan pedagang sayur. Mari belanja, mari berbagi di masa pandemi.

God bless.
L/L

Facebook Comments
Bagikan :