Perempuan NTT dan kebiasaan dibelis (bagian 2)

0
155
Bagikan :

“Lari Baroit”
Musik dansa sudah sejak siang kemarin. Artinya, sudah seminggu, rumah tetangga saya ramai dikunjungi keluarga. Ada pesta Nikah. Salah satu anaknya menikah. Pesta dimulai dari kumpul keluarga, pembuatan tenda sekaligus segala persiapan tetek bengek yang melibatkan partisipasi hampir seluruh keluarga kedua belah pihak.
Semua jenis musik diperdengarkan. Sound system dipinjam dan semua onderdil pesta, termasuk peralatan makan minum, dipinjam. Empat hari telah berlalu sebelum akhirnya kita akan tiba pada puncak acara, di hari pemberkatan nikah dan resepsi.

Ritual inti dari prosesi pernikahan yang hanya berlangsung beberapa menit saja yakni sang ulama menumpangkan tangan memberkati kedua mempelai, tapi di sini dirayakan selama berhari-hari. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Tetamu yang hadir dalam acara resepsi, akan membawa amplop atau angpao berisi satu atau beberapa lembar uang lima puluh ribuan sebagai hadiah bagi kedua mempelai.

Pesta mahal ini terselenggara akibat partisipasi dari keluarga inti kedua mempelai. Beberapa hari lalu, telah diadakan acara kumpul keluarga di mana semua keluarga telah mengisi buku catatan keuangan sebesar yang mereka mampu sumbangkan. Buku itu disimpan baik karena akan menjadi panduan ketika si saudara itu juga melakukan hajatan yang sama atau apa saja. Semacam arisan adat yang wajib hukumnya di Nussa Tenggara Timur.

Acara kumpul keluarga dilanjutkan dengan ‘masuk minta.’ agar ada jalan untuk melakukan penyelesaian ketentuan adat sebelum seorang perempuan dinikahi untuk dibawa pergi. Dalam keluarga Nusa Tenggara Timur yang patrilinial, keberlangsungan marga sangat diutamakan. Untuk menjaga keseimbangan kosmosnya, orang NTT menggunakan beli berupa Moko (masyarakat Alor), gading (masyarakat Flores), kuda (masyarakat Sumba) dan Emas dan atau uang untuk suku-suku lainnya. Karena tidak ada kata terima kasih dalam ritual adat belis ini, maka keluarga perempuan penerima belis juga harus mengembalikan ‘budi baik’ keluarga laki-laki dengan banyak benda sebagai antaran yang dibawa oleh mempelai perempuan pada waktu ‘lari baroit’.

Baca Juga:  Asmara di atas cadas

Lari baroit sendiri dilaksanakan diakhir acara pemberkatan nikah dan resepsi. Ketika sang pemandu Acara mengumumkan waktu ‘lari baroit’ tiba, tamu undangan bersilaturahmi dengan mempelai, berpelukan dan cium hidung lalu bubar. Barisan pagar ayu pengiring dan penyambut mempelai perempuan, mulai menari dalam formasi. Mereka mewakili keluarga mempelai perempuan dan laki-laki.

Keluarga perempuan akan mengantar dan keluarga laki-laki akan menerima, mempelai perempuan. Sebelum keberangkatan , dilaksanakan acara turun Fam yang artinya perempuan menikah melepas marga asalnya dan resmi menyandang Fam suaminya. Adat untuk ritual pergantian Fam ini biasanya ditebus dengan menggunakan uang, Kerbau atau Sapi terbaik, yang ditandai dengan pelepasan selendang si perempuan dan selendang baru disematkan oleh keluarga laki sebagai bentuk penerimaan.

Apapun strata sosial dan latar belakang pendidikannya, perempuan NTT wajib jalani ritual turun fam ini. Setelah pengalungan selendang, maka mempelainya diarak menuju angkot sebelum akhirnya mereka pergi ke dalam keluarga barunya. Ironisnya, tidak satupun perempuan menikah di NTT yang menyadari bahwa acara lari baroit ini sebenarnya memiliki konsekwensi dan tanggung jawab yang akan berlangsung seumur hidup bagi kami perempuan di NTT.
Apapun yang terjadi dalam “rumah” barunya setelah lari baroit ini, perempuan tidak punya hak untuk kembali ke dalam rumah bahkan marga ayahnya. Hal ini tentu saja karena status hukum dari si perempuan setelah turun fam ini yang sama pentingnya dengan posisi seorang ratu dalam keadaan perang, di jaman raja-raja. Anda paham maksud saya bukan?

Makna dari ritual Turun fam dan
lari baroit ini sendiri sebenarnya menjadi awal dari sebuah belenggu bagi status social si perempuan.Sah dan mengikat, seumur hidupnya. Perempuan tidak perlu menuntut atau menceraikan suaminya dengan alasan apapun. Keluarga ayahnya tidak berhak untuk melindungi kembali perempuan ini jika suatu waktu, dia mengalami bahaya, kekerasan atau kemalangan di rumah suaminya termasuk jika suaminya meninggal dunia dengan atau tanpa meninggalkan anak. Bukan tidak mengenal perceraian tetapi perceraian tidak pernah diinginkan dalan tatanan adat orang NTT. (beberapa suku di NTT punya adat yang melindungi perempuan seperti tradisi “bale uma” di Sabu).

Baca Juga:  Perempuan, seberapa pentingkah engkau

Perempuan menikah di NTT, bukan saja harus bisa mencintai suaminya tetapi dia sudah harus dicintai dan mencintai keluarga suaminya. Mengapa ritual belis, turun fam bahkan lari baroit ini menjadi sangat penting dalam keluarga NTT? Karena setiap anak yang lahir bagi seorang ayah, status adatnya dipertegas dengan semua ritual adat yang dilalui ibunya. Walau menikah dengan sah, rasa empati orang NTT terhadap pelaksanaan adat, tidak bisa dihilangkan. Jika tidak mengikuti tahap ini, anda adalah perempuan yang dianggap tidak sempurna dalam metamorfosis status sebagai seorang istri, ibu dan sahabat bagi keluarga barunya. Anak-anaknya kadang tidak dilibatkan dalam urusan norma adat dan pembagian warisan.

Selanjutnya, perempuan boleh memakai kain tenunan motif asalnya, tetapi dia harus setia menjaga kehormatan keluarga barunya. Ibarat melangkah masuk dalam sebuah kamar, mengunci pintu di belakang, lalu mebuang anak kuncinya, tak ada alasan lagi bagi perempuan ini untuk merdeka dan bebas menjadi dirinya sendiri tetapi dia harus menjadi bagian integral secara adat, budaya bahkan kebiasaan dari suamminya. Agama tidak menghilangkan adat ini tetapi agama menyesuaikan diri.

Mempelai yang pernikahannya diakhiri dengan acara lari baroit artinya si perempuan sudah dilunaskan kewajiban adatiah untuk terbawa oleh suaminnya. Sejumlah uang atau binatang telah diberikan oleh laki-laki kepada keluarga mempelainya untuk menandai apa yang lazim disebut adat, berupa uang aer susu, to’o huk atau batu plat dan antaran jika disepakati. Walau berapa mempelai menyerahkannya secara simbolis dalam bentuk amplop tetapi sudah pasti semua tahapan ini memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Rumit dan berbelit.

Seremoni adat untuk melengkapi upacara pernikahan bagi keluarga Nusa Tenggara Timur, sangat mahal dan memakan biaya yang tidak kecil dibanding penghasilan rata-rata kita. beberapa mempelai memberanikan diri untuk membuat konseep perikahan yang murah meriah tetapi ini kembali lagi pada konsep yang sudah berlaku turun-temurun tentang pernikahan itu sendiri. Pernikahan artinya mempersatukan dua keluarga dalam satu ikatan kerabat. Untuk itu, Pengakuan social dan kewajiban adat, dianggap memiliki nilai spritual untuk menjaga keseimbangan kosmosnya. Keyakinan yang sudah diyakini dari generasi ke generasi. Tak ada seorangpun yang bisa mengubahnya.

Baca Juga:  Kenali Pedofil (orang dewasa penyuka sex dengan anak)

Adat ini juga memungkinkan Perempuan yang kehilangan suamipun, status norma adatnya tetap sama, diterima dan dihargai sebagai “istri dan ibu”, dalam keluarga yg pernah dia bangun. Itulah timor, itulah kami. Perempuan adalah identitas, cinta dan kehidupan. Di Nusa Tenggara Timur, perempuan diharuskan memiliki kekuatan ekstra agar cakap menjalani hidup dalam budaya ketimorannya. ***

Facebook Comments
Bagikan :