Perempuan NTT dan Kebiasaan dibelis. (bagian 1)

0
239
Bagikan :

(Antara keyakinan, cinta, gengsi, tanggung jawab dan status hukum)
—————–

Susung-Laung, Uniknya perempuan Alor.***

Masih berjarak dua puluh meter dari tempat saya berdiri, pandangan mata saya langsung menangkap “aura special” dari sesosok perempuan setengah baya dengan baju putih dan celana pendek seadanya. Otak dan hati langsung memberi stimulus kepada lidahku yang dengan spontan berdecak kagum.
Tanpa menunggu dia mendekat, saya bertanya kepada seorang guide (pengantar turisku) yang berdiri di samping saya. “Siapa perempuan setengah baya ini?”
Sang guide menjawab, itu isteri kepala desa Elok, kecamatan Alor Timur.
Penasaran dengan alasan mengapa saya berdecak kagum?
Ya, perempuan sederhana tanpa polesan kosmetik ini, menunjukan aura keibuan yang maskulin dan membumi. Aura pemimpin dari perempuan ini sangat menggodaku untuk mengambil gambarnya dari banyak sisi. Saya ingin pastikan, sisi mana yang tercantik untuk ditampilkan. Setelah beberapa kali klik, akhirnya saya memutuskan untuk memposting semuanya. Mungkin ada di antara pembaca tak melihat hal cantik dari fisik perempuan dalam gambar karakter yang saya pilih di bawah ini tetapi bagi yang terbiasa membaca, akan paham betul apa maksud saya, memberi informasi tentang karakter unggul Perempuan dalam kultur Alor. Alor adalah salah satu pulau kecil di utara gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur.
Susung Laung adalah citra perempuan yang elok tentang kemampuan mereka mengatasi banyak hal sulit sehingga mereka layak mendapat penghargaan sebagai para ibu sukses di kampungnya. Maklum, topografi Alor yang bergunung dengan kemiringan mencapai empat puluh lima sampai lima puluh derajat itu memang menuntut kinerja ekstra dari perempuan. Ditambah jam kerja yang tidak bisa dibatasi karena mulai dari memilih kayu bakar, menimba air, berkebun sampai menyusui, semuanya dilakukan dengan tangan sendiri tanpa bantuan mesin. Susung laung sudah termasuk kemampuannya mengelola keuangan keluarga.
Menggambarkan semua kelincahannya, perempuan berkarakter demikian biasa dijuluki dengan sebutan Susung Laung dalam bahasa Manata-Alor yang artinya si perempuan gesit yang lincah dan bijak
(sesuai lingkunga tentunya).

Baca Juga:  Perempuan dan jaman. Kartini di tengah pandemi.

Jika anda ingin mengenal sebuah suku-bangsa, anda bisa mengenal mereka dari keunikannya. Keberadaan seorang perempuan sebagai tiang oenyanggah rumah, masih sangat diperhitungkan dalam keluarga Alor. Hal ini berkaitan dengan keberadaanya sebagai penganggung jawab utama keberlangsungan karier atau kesuksesan suaminya di kemudian hari.
Latar belakang keluarga, faktor genetik dan status sosial orang tuanya, tentu merupakan faktor penentu utama, kenapa sesosok perempuan-perempuan ini terlihat begitu superior dalam klannya. (hampir semua suku di NTT memiliki sebutan tersendiri bagi Susung Laung ini).
Nilai budaya yang dianutnya, nasehat bijak, serta keyakinan kosmolik, terserap kuat dalam bahasa daerah yang dipakai sebagai bahasa ibu, bahasa hati dalam keluarganya.
Percaya atau tidak tetapi susung laung adalah anak perempuan dari tokoh-tokoh kunci di desa dan merupakan salah satu alasan kenapa perempuan Alor itu harus dibelis mahal. Belis tetap diyakini sebagai identitas wanita secara etika dan estetika dalam budaya ketimuran kami.
Bagi laki-laki Alor generasi bapak saya, tipe perempuan susung-laung ini adalah perempuan yg dikhususkan, dalam keluarga bahkan kampungnya. Mereka dipersiapkan untuk meneruskan generasi berikut yang unggul.
Para perempuan susung Laung ini, dikenal punya standar sendiri dalam memilih jodoh, bahkan mereka bukanlah tipe perempuan yg takluk kepada takdir dan cinta.
Uniknya, walau dijodohkan, mereka selalu pandai memilih suami.
Di setiap kampung atau klan, kita hanya akan menemukan satu atau dua orang perempuan Susung Laung.
Entah kenapa, walau tidak berpendidikan tinggi, mereka tetap memiliki pengaruh yang membumi.
Dimasa lalu, Pria yang memiliki masa depan biasanya menemukan tipe wanita susung-laung ini melalui keluarganya. Mereka umunya dijodohkan. Itu istilah yg tepat digunakan..
Apakah dengan dijodohkan, mereka memiliki rumah tangga yang berantakan? Sangat tergantung kepribadian mereka, tentunya. Mereka melahirkan anak-anak yang kemudian melanjutkan keberlangsungan hidup mereka di desa.

Baca Juga:  Hallo Corona, apa khabarmu?

Beberapa perempuan yang menembus batas dengan cara mengenyam pendidikan tinggi, memilih menemukan jodoh di luar kampung atau bahkan di luar pulau dengan berbekal inspirasi para perempuan susung-laung ini. Jika anda pria beruntung, anda menemukan wanita setia yang berbakti walau dia kadang lebih unggul dari suaminya.
Kebanyakan pria Alor yang sukses, berdiri di depan layar para perempuan susung-laung. Mungkin para pria itu berprofesi sebagai Sopir Truk, Pedagang sayur atau peternak sukses. Jika dicari tahu, umumnya kepala keluarga yang sukses di Alor memiliki isteri Alor yang berkarakter Susung-laung.

Secara alamiah, para perempuan ini menjadi soko guru bagi generasi di bawahnya dan penggerak pembangunan di masa jayanya.
Mereka adalah pribadi yang tak kenal mengeluh walau tidak sedikit dari mereka juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Mereka akan sangat disanjung jika tidak pernah mengadu ke keluarga asalnya atau ke aparat hukum ketika mengalami kekerasan karena dianggap mempertahankan rumah tangganya. Pandangan demikian, sudah mendarah daging, bahkan oleh perempuan sendiri.
***
Jika anda menemukan seorang perempuan seperti yang sudah saya gambarkan di atas, apakah anda akan memberdayakannya sebagai seorang tokoh kunci di lingkunganmu ataukah anda akan membangun benteng pertahanan diri agar dia diempang??
Hati-hatilah dengan perempuan susung laung yang cerdas karena dia selalu menemukan “banyak jalan ke Roma.”
(bersambung…)

Facebook Comments
Bagikan :