Perempuan, tiang penyanggah Ekonomi rumah Tangga

0
218
Bagikan :

Seperti menggadai nyawa.
Ya, begitu kesan pertama ketika lewat dari deretan perempuan desa yang membawa hasil kebunnya untuk dijual.
Di tengah ancaman wabah corona, mereka malah terlihat seperti tidak takut mati.
Saya mengarahkan stir motor ke arah mereka lalu menepi.
“ada kujawas(jambu biji) ko?”
Ada, jawab perempuan setengah baya ini.
Kami bertransaksi. Lalu salah seorang di antara mereka bertanya.
“makan sirih-pinang juga ko, bunda?”
Iya. Jawabku lirih sambil menyodorkan kantong plastik berisi pinang dan sirih.
“boleh diambil moms. Tapi kita jangan bersentuhan ya. Harus tetap berdiri jauh-jauh.”! (sebagai orang Timor, beta selalu bawa sirih pinang kemana-mana).
Sehabis transaksi dan makan sirih pinang bersama, kami pisah.
Kalo om tanya beta, kenapa ibu sonde suruh para perempuan ini untuk tinggal di rumah??
Beta akan jawab: “kalau ketemu perempuan pedagang pinggiran, segeralah menuju ke jualan mereka, beli tanpa banyak tawar, habiskan dagangannya biar mereka segera pulang ke rumah. Jangan usir, om.
Perempuan tidak akan pernah tenang ketika keluarganya memerlukan ‘sesuatu’ untuk tetap hidup dan tinggal di rumah .” ini juga yang terjadi pada perempuan afganistan yang ketika masa perang masih berani keluar rumah, bertarung di antara desingan peluru demi hidup keluarganya. Di manapun berada, naluri perempuan selalu begini. Mereka butuh perlindungan sosial.
Para permpuan dalam gambar ini hanya beberapa di antara ribuan perempuan yang tidak tinggal di rumah di musim Corona. Proad of you my dear.

Facebook Comments
Bagikan :