Perempuan yang menari. Ada cinta di sini.

0
290
Bagikan :

Perjalanan hari ini, memberi arti tersendiri bagi petualanganku selama ini. Perempuan yang menari sambil memegang pisau dapur karena memang mereka sedang memasak di dapur. Sekita tiga puluh menit lalu, saya hadir di sini, di desa Boneana Kupang barat, Kabupaten Kupang, prop. NTT.

Tak puas kurasa kalau moment ini tidak difoto. Suasana hijau dan nyaman karena sangat jauh dari keramaian kota. Bumi dipijak langit dijunjung. Seperti biasa, orang di sini selalu berciuman ketika bertemu. Setelah berciuman sebagai ungkapan selamat datang, ibu-ibu di lokasi pemukiman pengungsi Timor Leste ini, langsung berbaur satu sama lain, kami begitu akrab larut dalam suka cita, sebagai rasa syukur yang tak terhingga.
Reaksi yang berbeda datang dari anak usia tanggung, yang seolah menghindar ketika saya mendekat. Rupanya di lokasi ini, saya dianggap sebagai orang kota yang berkunjung. Aku biarkan suasan tetap mengalir sebagaimana adanya. Seolah tak menghiraukan anak-anak itu, saya beranjak pergi untuk duduk di atas sebuah kursi yang disodorkan.

Setelah dipersilahkan duduk, tanpa ragu seorang ibu muda melepas anak dalam gendongannya kepada saya ketika saya membelai rambut keriting di kepala bayinya. Langsung lengket, kamipun asyik bercengkerama.
Rupanya kebahagiaan kami, menarik perhatian si Bapak yang duduk di depanku. Tanpa permisi, dia mendekat dan kami terlibat dalam kebersamaan tanpa batas status, orang kita dan desa. Asyik aja.
Tidak berapa lama, Istri si bapak ini menghampiriku dan bercerita tentang siapa dirinya.
Dengan penuh semangat, sesuai tingkat pemahamannya tentang komunikasi, dia mulai bercerita seenaknya saja.
“saya Orang Kristen, punya empat orang anak, dua sudah jadi pendeta dan saya sendiri sekarang beragama muslim karena menikah dengan baitua ini. Saya ikut Baitua ini pung agama.” katanya dalam dialek Timor Leste yang kental.
Ah, luar biasa. Mama beruntung sekali bertemu dengan seorang “laki-laki baik”, begitu respons saya menanggapi ceritanya. Entah apa yg dipikirkannya.
Mungkin dia takut saya tk nyaman berada di antara mereka yang berbeda-beda, suku dan agamanya sehingga harus menjelaskan keberadaan mereka secara detail. Tanpa membuang waktu, dia menari di depanku, seperti ingin mengusir rasa gugupnya.Tanpa menyambung ceritanya, dia pergi begitu saja dengan penuh ceria. Masuk kedalam dapur.

Baca Juga:  Namaku Cinta, ketika kau pergi.

Waktu mau kembali ke rumahku, saya masuk ke dapur untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Terasa kerongkonganku tersendat.¬† Kaget, campur aduk. Sambil menari, dia mengajakku sekali lagi, “mari berdansa, ibu. Jangan malu-malu. Bersenanglah bersama kami sebelum pulang”.
Aah, segera menolaknya dengan halus. “mama yg dansa, biar saya ikut hentak kaki saja..!” Dan dia larut dalam dansa indahnya seiring hentakan kakiku….

Perempuan itu masih berdansa ketika saya mengarahkan langkahku, berbalik untuk pergi. Pergi dengan senyum lebar di bibirku. Cinta dan kehidupan, selalu seiring sejalan.
***
Kenapa penting saya tulis kisah ini?
Perempuan yang menari, memberiku pelajaran.
“Menari untuk menginspirasi, menari untuk kebebasan. Hidup adalah pengalaman dan dengan menari, anda akan menjadi bebas.”
Tahukah anda bahwa di tempat lain, banyak orang membutuhkan sentuhan. Kenapa tidak luangkan waktu untuk “turun” sebentar dari status dan melebur bersama mereka?
Ketika berada di bawah, anda akan merasakan, betapa kerasnya kehidupan bisa dilebur begitu saja menjadi cinta karena setiap orang, saling terhubung dengan permanen. Tidak ada android atau kotak yang membatasi mereka.
Lalu sayapun pulang kembali ke rumah dengan kebahagiaan yang tak terkatakan karena mereka tersenyum dan mau berbagi kisah denganku. Beberapa sisi kemanusiaanku, mulai diasah kembali. Moga berdampak.

God bless you

Facebook Comments
Bagikan :