Pesanmu tersampaikan guruku. Selamat hari Pendidikan Nasional Indonesia ke-131

0
497
Bagikan :

Notifikasi Facebooknya, aku konfirmasi. Yansenius Hano, demikian nama akunnya. Dahulu Kami biasa memanggilnya pak Yan. Pertama kenal beliau di kampus waktu saya diplonco sebagai calon mahasiswa. Beliau adalah mahasiswa senior, anggota BEM. Setelah wisuda sarjana, beliau lanjut kuliah Masternya dan kembali menjadi Dosen di kampus kami. Waktu itu, teman seangkatan saya sudah diwisuda semuanya. Tiga tahun sudah saya tinggalkan kampus. Saya putuskan menikah karena tidak ada harapan secara ekonomi untuk bisa selesai study. Berharap suami saya bisa membantu biaya kuliah yang tersisa tetapi kenyataannya tidak mudah. Tahun ketujuh kuliah, semester tiga belas di kampus, saya siap-siap droup out. Para dosen memperbincangkan nasibku. Setidaknya saya diperhitungkan sebagai salah satu mahasiswa berpikiran sistematis, yang lagi mentok.

Kisah ini dimulai ketika seorang teman menemuiku sekali waktu dan menyampaikan pesan dari ketua Jurusan, katanya “Lodi, ada panggilan menghadap dari Ketua jurusan di kampus”.
Aku bergegas ke kampus dan ternyata, pria yang menitipkan pesan itu ialah pak Yan, mahasiswa seniorku dulu. Saya sedang hamil anak kedua. “waktumu hanya tinggal satu semester. Bergegaslah selesaikan skripsimu. Saya akan rekomendasikan nama kepada dosen penasehat akademikmu agar kau diprioritaskan”. Demikian jaminan dari beliau setelah mendengar semua cerita panjang dan alasan mengapa aku terlambat selesaikan study.
Kerjasama diantara mereka akhirnya aku boleh ujian sarjana bulan depannya dan diwisuda. Tak ada ucapan terimakasih apalagi amplop yang aku sodorkan untuk beliau. Kini, lengkaplah hidupku. Selembar ijasah dan dua orang balita.

Empat tahun berlalu, aku punya tambahan anak lagi. Genap empat orang balita pada delapan tahun pernikahanku. Suami saya aktifis, sambil bekerja serabutan. Saya kerja macam-macam termasuk memelihara ayam pedaging. usaha itu bangkrut waktu krisis moneter, dua tahun setelah aku wisuda. Jiwa aktifisku rupanya makin subur bertumbuh dalam keadaan hidup yang sangat menekan.

Awal tahun 2000, saya lulus tes CPNS yang diselenggarakan oleh salah satu instansi pemerintah di lingkungan propinsi NTT dan ditempatkan di Kabupaten Alor. Sesampainya di tempat tugas yang baru, saya mengajar di Sekolah Dasar bersama guru-guru senior seusia ayahku. Semua pengetahuanku di kampus, aku simpan rapat-rapat karena aku junior di antara para guru senior lulusan SPG, (setingkat SMA). Tak segan aku belajar tentang bagaimana cara mengelolah kelas secara kontekstual dari orang-orang tua ini. Mereka senang berbagi pengalaman dengan saya di sekolah. Bahkan mereka mengajari aku membuat kue dan minuman segar. Pendekatan hati. Ada nilai guru, ada nilai ibu, dijumlahkan menjadi nilai dari ibu guru. Itu sangat Inspiratif.

Baca Juga:  Kisah manis, masa belajarku dari rumah.

Di Alor juga, hampir setiap hari saya bertemu dan melihat perempuan atau anak yang mengalami kekerasan. Kemiskinan dan masalah perempuan yang kompleks. Jiwa pemberontakku, terasah setiap pagi. Ayah sekaligus guruku selalu mengingatkan, “kalau kau tidak peduli pada bangsamu yang tertinggal ini, tak akan ada orang yang mau peduli.” Memang, daerah ini termasuk daerah tertinggal pada masa itu. Dua tahun berlalu bersama ayah yang terus mencabuk nuraniku.

Aku tidak menemukan wadah untuk mengajukan keberatan terhadap realita. Setiap hari aku menulis di buku harian tentang banyak mimpi. Lalu ada koran baru yang terbit di Alor, seminggu sekali. Aku mulai menuliskan konsep kemanusiaan yang aku butuhkan sebagai perempuan, di atas lembaran-lembaran kertas buram, melalui sebuah mesin ketik portabel yang macet, difotokopi sebelum disodorkan kepada redaktur.
“Perempuan. Kami perlu hidup di dunia yang lebih nyaman”, begitu intinya. Tulisan-tulisan itu tidak pernah ditolak. Normal juga ketika semua argumenku yang terbaca oleh publik, diuji oleh pengadilan sosial sesuai porsinya masing-masing. Aku tidak bertemu seorang sparing partner yang seimbang dan tak bisa melampiaskan emosiku dengan sederhana. Aku mulai keluar dari kotak dan terlibat langsung dalam pelayanan publik bersama teman-teman pemerhati. Kali ini aku masih Menulis sambil memberi informasi kepada perempuan bahwa ada undang-undang yang melindungi mereka. Pekerjaaan menjadi pemerhati sosial yang mengadvokasi masalah perempuan semampuku adalah pekerjaan paroh waktu yang aku sukai. Aku mulai membangun relasi di kelas atas untuk memeluk kalangan bawah. Aku mengenal dan dikenal oleh orang-orangku.

***
Tujuh belas tahun berlalu. Aku hijrah ke Kota dan bertemu kembali dosenku, pak Yan di Facebook. Dari foto profilnya aku lihat, dosenku sudah jadi warga negara senior. Artinya aku sudah ada di generasi baru, sebuah generasi yang beliau mimpikan ketika mengirimkan pesan itu kepadaku. Aku mulai mengerti dengan tuntutan jaman. Pergeseran nilai yang mungkin sedang terjadi adalah hal yang harus disiasati guru secara fleksibel.

Baca Juga:  Hallo Corona, apa khabarmu?

Aku guru di jaman digital. Peserta didik sudah punya pengetahuan awal yang bisa melebihi standar belajar jika guru tidak mampu mengembangkan diri. Semua haluan sudah berubah. Guru bukan sekedar sosok eksekutor isi buku paket, bukan juga petugas penilaian yang mengukur kemampuan belajar siswa secara tekstual saja.
Guru bukan lagi sosok tunggal yang ditiru atau digugu. Ada artis, tokoh politik, ilmuwan, YouTubers, gamers dan publik figur lainnya, sudah mulai menarik sebagian besar minat siswa dibandingkan gurunya. Apakah guru tidak berpengaruh? Anak-anak bisa belajar dan pintar dari rumah, tetapi setiap anak membutuhkan kharisma guru untuk hal yang lebih luas. Masing-masing anak dan guru punya kelebihan dan kekurangan. Hanya guru yang tahu, bagaimana memoles batu intan menjadi permata mahal.
Maksud saya dipahami, bukan??
Ketika diberitahukan bahwa pangkalan angkatan laut Jepang di Hiroshima dan Nagasaki sudah hancur dibombardir sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, Kaisar Hirohito bertanya kepada perdana menterinya dengan sebuah pertanyaan mendalam, “berapa orang guru yang masih hidup?”

***
Hari ini tanggal 2 Mei. Kita telah merayakannya selama lebih dari seratus tahun, bertepatan dengan hari lahirnya Ki Hajar Dewantoro, seorang tokoh pendiri lembaga pendidikan bernama Taman siswa. Tahun ini hari Pendidikan Nasional tidak diperingati dengan upacara bendera di lapangan. Siswa dan guru, semuanya stay at home, learning from home akibat pandemi Covid-19 yang sudah membunuh jutaan nyawa di seluruh dunia. Kegiatan dari rumah ini Bukanlah kegiatan yang dipersiapkan. Ini terjadi sebagai akibat dari wabah Corona yang menyebar secara cepat dan membunuh siapa saja yang terjangkiti.
Mungkin, setelah pandemi ini lewat, kementerian pendidikan akan merumuskan sebuah skenario nasional tentang Daring, pembelajaran online. Apakah ada skenario pertemuan guru dan siswa dalam kelas dan bagaimana pola pendekatannya, kita belum tahu. Jika sudah diatur, harus diterima dan dijalankan sebagai bagian dari penyempurnaan proses belajar moderen. Guru mungkin saja akan sakit sendiri karena anak lebih percaya apa yang dia temukannya melalui media sosial dan kadang mengabaikan perintah guru.
Perintah dan arahan, tentu berbeda. Guru harus lebih spesifik memposisikan diri. Mungkin kita juga akan melupakan sekolah unggulan dan fokus pada pengalaman belajar yang menghasilkan alumnus unggulan.

Baca Juga:  Perempuan, tiang penyanggah Ekonomi rumah Tangga

Kita perlu tahu bahwa di hari pendidikan Nasional tahun 2020, status guru dan peserta didik adalah setingkat alias sama-sama nitizen di media sosial.
Lalu apa yang bisa membedakan guru dari muridnya? Tentu saja guru harus mampu membahasakan maksudnya dengan elegan dan dinamis. Kirimlah energi positif serta konsep dan pola pikir barumu secara sporadis melalui media social. Karena peran guru tidak bisa diambil alih oleh tekhnologi. Guru harus hadir untuk memberi sugesti positif. Langsung atau tidak langsung, seorang guru mempengaruhi perkembangan intelektual, emosional dan spiritual seorang anak selama masa sekolahnya.

Apa yang akan aku bagikan hari ini adalah sebuah apresiasi dan rasa hormat tertinggi kepada para guru senior di atasku, juga kepada dosen juniorku yang pernah mengirimkan pesan untuk aku kembali ke kampus, waktu itu.
“Pesanmu tersampaikan, guruku”. Aku telah menemuimu di kampus. Entah terpikir atau tidak tapi keputusanmu hari itu, telah menjadi kebanggaan yang dikenang hari ini. Guru yang pintar akan mengajari muridnya banyak pengetahuan tapi guru yang baik akan menginspirasi muridnya melalui keteladanan dan nilai diri. Jika saja tidak ada pesan yang terkirim oleh guruku, mungkin hari ini anda tidak membaca tulisan ini karena tidak perlu ditulis tentang peran inspiratif seorang guru.

Peserta didik akan menjadi seperti apa yang mereka mimpikan,bukan yang kita ajarkan. Aku menerima inspirasi dari guruku, itu berlanjut kepada muridku dan waktu akan terus berjalan.
Jadilah guru yang menginspirasi.
Selamat hari Pendidikan Nasional, para murid dan guru inspiratifku.
“Sampaikan pesanmu dan Pesanmu tersampaikan”.
***
Tetap Cuci tangan pakai sabun, pakai masker, jaga jarak dan tetep di rumah. (Cegah Corona)
~~~***~~~
God bless you

Facebook Comments
Bagikan :