Petarung bersarung. Perempuan pemimpin, membangun bangsa dari kampung.

0
733
Bagikan :

Setelah jaman berubah, memiliki gelar akademis yang panjang, bukan jaminan untuk menjadi unggul dan diandalkan. Ada langit di atas langit. Ada terhebat di atas orang hebat. Tetapi integritas pengabdian dan ketulusan hati untuk membangun bangsa dari seorang pejuang, selalu akan menginspirasi dan menjangkiti siapa saja yang pernah tersentuh dengannya. Ibarat virus Corona, langsung atau tidak, spirit positif tetap terbagi walau terhimpit jarak dan waktu.

Sengaja saya turunkan tulisan ini, menyambung kehebohan kemarin tentang seorang pembangun militan di kampung yang juga kisahnya sudah saya bagi lewat blog saya ini. Beliau adalah El Asamau yang kini terpapar virus Corona ketika sedang giat-giatnya hilir mudik mengabdikan potensinya.

Ibu Selvi, demikian beliau biasa disapa. Pertama aku mengenalnya sebagai guru sebuah sekolah swasta di Kota Kalabahi setelah dia diwisuda sebagai sarjana pendidikan pada Universitas Nusa Cendana, Propinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2003. Selama masa itu, kami sama-sama aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan dan berpartisipasi aktif dalam banyak pengabdian masyarakat. Sepuluh tahun kemudian, beliau dipercayakan menjadi kepala sekolah, SMA. Negeri Mataru, kabupaten Alor. Saat yang sama, beliau harus menerima estafet ketua GAMKI, sebuah organisasi kaum muda, Indonesia. Aku ingin memulai kisahnya sejak beliau melangkah ke Mataru, sebagai seorang kepala sekolah perempuan.

Mataru adalah salah satu kampung yang terletak di wilayah pedalaman Alor Gunung Besar, kabupaten Alor. Untuk mencapai tempat ini, kita bisa memilih jalur laut atau jalan darat. Jalan melalui laut ditempuh kira-kira 5-6jam, sedangkan perjalanan darat biasa ditempuh selama kurang lebih 4-5 jam dari pusat kota Kalabahi. Perjalanan darat bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau panser (kendaraan khusus yang dirancang dari mobil Taft bekas untuk menaklukkan pegunungan Alor yg kemiringannya mencapai 45-50 derajat). Sepeda motor bisa digunakan menempuh perjalanan ini tetapi anda perlu bonceng agar ada yang membantu jika sesuatu terjadi di sepanjang perjalanan melintasi pegunungan yang tidak berpenghuni.
Jika anda seorang petualang, anda tentu bermimpi untuk ke Mataru sekali waktu karena selain medannya menantang, kau juga akan dibuai dengan sejuknya berendam air kolam di lokasi wisata alam air terjun Taman Mataru.

Baca Juga:  Semanis dia memanggilku mama, kuberi dia nama Laharoi

Mataru, daerah pertanian yang subur dan dihuni oleh suku Abui, dengan perawakan kuat dan gagah, sesuai ekologi tanahnya. Penghasilan utama orang Mataru adalah komoditi Kemiri dan kenari. Kemiri adalah tanaman perdagangan yang ditanam sedangkan kenari sudah dipelihara sejak jaman kakek kami. Sedikit bocoran, ibu-ibu di sini, masih bisa melahirkan normal di usianya yang ke-53 tahun. Mereka Sehat, alamiah. Maklum makanan mereka nyaris tanpa pestisida. di tempat ini, tanaman yang diberi pupuk, akan mati.
Saya pernah diajak ke sana oleh sebuah komunitas dan melihat sepintas, apa yang ada di sana.
Anak-anak kecil yang bertumbuh di daerah ‘terpencil,” jauh dari kota, mereka lahir dan belajar melanjutkan hidup yang sekarang dijalani orang tuanya. Ada sayuran yang segar tetapi orang tua mereka terpikat untuk memberi super mie dan Snack kemasan sebagai makanan tambahan. Jarak dengan sekolah menengah sebagai pusat belajar setelah sekolah dasar, dirasa sangat jauh. Banyak perempuan tidak bisa bersekolah karena berbagai alasan. Kemudian melalui kebijakan pemerintah kabupaten, dibangunlah sekolah menengah pertama di beberapa titik.
Karena dirasa sebagai kebutuhan, akhirnya dibangun satu unit sekolah menengah atas di Mataru, sebagai titik kumpul dari beberapa sekolah menengah pertama pendukung yang sudah terbangun.

***
Perjalanan melelahkan serta tinggal jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota, bukanlah tempat yang aman bagi seorang perempuan “anak papa”. Sebagai seorang perempuan, Apa yang sudah dibayangkan ketika anda disodorkan nama tempat itu tentunya tidak mudah. Anda harus tinggal berbulan-bulan di tempat terpencil ini, jauh dari orang tua dan mungkin tidak setiap bulan anda harus ke kota untuk gajian, makan enak di restoran, pergi hura-hura dengan teman sebaya atau beberapa kesenangan usia muda lainnya.

Baca Juga:  Perempuan, tiang penyanggah Ekonomi rumah Tangga

Tak demikian dengan ibu Selvi. Ketika menerima tugas sebagai kepala sekolah di SMA N Mataru, dengan senang hati anak kedua dari lima bersaudara ini, mengemas barang-barang dan pergi dengan sukacita, menunaikan tugas negara yang diembannya. Praktis saja beberapa tugas penting di kota termasuk statusnya sebagai ketua GAMKI, harus ditinggikan. Tetapi seiring waktu berjalan, kedua tugas itu satupun tak dikorbankan. Kordinasi dan konsolidasi tetap dilakukan dan waktu liburan dipakai secara efektif untuk mengeksekusi semua kegiatan yang tertunda pada hari efektif sekolah. Perlu diketahui bahwa sejak menjabat sebagai kepala sekolah di SMA N Mataru tahun 2013 sampai sekarang, belum ada berita perselisihan antara ibu kepala sekolah dengan rekan gurunya. Mereka bekerja sebagai mitra, bukan atasan dan bawahan. Pengembangan sekolah juga luar biasa. Sesuatu yang hanya anda temukan pada perempuan tertentu bukan?

Kami biasa pergi bersama beberapa perempuan pemerhati lainnya di Alor untuk melayani, baik itu dalam rangka bakti sosial maupun kegiatan sosialisasi tentang masalah kemanusiaan. Bagi beberapa kritikus negatif, kami dianggap egois dan tidak setia menjalankan tugas negara sebagai Aparat Sipil Negara. Tapi itu tak perlu dijawab. Toh kami merasa semuanya berjalan dengan normal tanpa merugikan siapapun.

Sepak terjang setiap orang tentu digerakkan oleh alasan tertentu. Begitu pula perempuan muda yang selalu dipanggil bunda oleh saudara dan para ponakannya ini. Beliau tak mengalalaikan tugas dan panggilannya. Masyarakat bahkan tidak mengijinkan ibu ini pindah tempat tugas sebagai bayaran terhadap kerja cantiknya selama ini.
Tentu saja hal ini datang dari sikap patriotisme masing-masing orang dalam menunjukan bakti
bagi tanah Pertiwi yang dipijaknya,bukan?
Ini bukan jamannya dunia sangat luas digapai. Ini jaman dunia bisa ditaklukkan hanya dengan sekali klik. Anda mengerti maksud saya bukan? Ya, meskipun tinggal dan mengabdi di daerah terpencil, segala pekerjaan bisa jalan. Alasannya sepele. Jaringan telekomunikasi sudah terpasang sampai ke pelosok nusa.

Baca Juga:  Menenun benang-benang harapan. Kisah sukses penenun tradisional, Alor

Kadang saya menunggu perempuan bersenyuman manis ini muncul di layar messengerku karena beliau jarang aktif. Jika lagi tidak aktif, saya tahu saja mungkin HP nya lagi tidak dicas karena masalah listrik di desa atau mungkin beliau lagi ke tempat yang tidak dijangkau sinyal Telkomsel. Saya selalu tersenyum setiap kali melihat dia posting status karena sesekali, beliau biasa berpose bersama wisatawan yang berkunjung ke Mataru. saya juga sering melihat beliau posting gambarnya di tengah pencakar langit. Rupanya sering pesiar Jakarta juga. Keren amat, bunda…
Beliau adalah Selvi Lepa, S.Pd. Seperti saya, tentu saja sulit bagi kami untuk melanjutkan studi ke program magister atau diatasnya karena terhimpit jarak dan waktu. Kami tak bisa mengejar gelar akademis, kami hanyalah honoriscausa di hati mereka yang kami layani.

I proud of you, my dear.
Kita hidup melayani visi,bukan ambisi. Apapun keadaannya, bagi seorang perempuan, jabatan adalah wadah untuk melayani, bukan alat kekuasaan.
Kita adalah perempuan merdeka yang hidup dalam bangsa yang merdeka. Kita harus menjadi”master in our country”.
Selamat melayani merpatiku.
Moga esok, Tuhan kirimkan seorang pria luar biasa untuk menemani hari-hari hidupmu.
God bless you

Facebook Comments
Bagikan :