Semanis dia memanggilku mama, kuberi dia nama Laharoi

0
525
Bagikan :

Ini bukan hidup yang aku pilih tapi aku dipulihkan dan menemukan pengharapan. Tulisan ini diangkat dari kisah nyata, bagaimana Tuhan menuntun perjalananku yang terjal dan berliku selama ini. Saya tidak menulis tentang tradisi sebuah lembaga agama, tapi saya menuliskan tentang hakekat Tuhan yang transenden sekaligus imanen dalam kehidupan seorang perempuan.
***
Usiaku dua puluh delapan tahun, sudah punya tiga orang putra-putri dan memiliki hari-hari yang sangat sibuk ketika hal spesifik itu aku alami. Saya tahu pasti bahwa keterlambatan ini adalah gejala awal kehamilan.
Karena tidak direncanakan, saya mencoba beberapa merek obat untuk mengagalkan kehamilan ini. Tidak berhasil. Waktu terus berjalan dan Usia kehamilan memasuki minggu ke lima belas, saat suami saya lengah dan kecelakaan itu tak terkendali. Sepeda motor yang dikekang suamiku, tergelincir keluar dari aspal dan menabrak pagar batu, Saya sendiri terpelanting sejauh sepuluh meter, anak sulungku mengakami cidera dan suamiku hampir mati. Tetap saja, rahimku tidak terganggu. Ajaib memang. Janinnya bertumbuh dengan baik.

Kini tiba waktunya melahirkan. Dukun yang menolongku, kewalahan karena saya sudah sakit melahirkan sejak lima hari yang lalu. Saya meminta suami untuk ke rumah sakit saja, tetapi beliau tidak berkenan. Saya maklum saja karena dalam keadaan sakit melahirkan dan tidak berdaya. Akhirnya dengan metode tradisional, dua perempuan terlatih, membantu mengeluarkan bayi itu dengan penuh resiko. Perawatan nifas secara tradisional membantuku lekas sembuh.

Seperti semua ibu masa itu, saya berharap yg lahir ini adalah anak laki-laki. Perjuanganku ternyata hanya untuk bayi perempuan ini, dan itu membuat saya kesal sekali. Sepanjang malam, tidak saya hiraukan atau beri dia ASI. Esok paginya, semua berjalan normal setelah saya melihat fisik bayi ini, begitu montok dan Menggemaskan.
Seminggu kemudian, bayi sehat seberat 3,5kg itu mulai menunjukkan gejala sakit yang aneh. Di usia Dua bulan, berat badannya janya tersisa 1,5 kg. Dokter spesialis anak yang kami datangi, menolak untuk merawat bayi ini tanpa saya tahu alasan jelasnya. Penyakit bawaan, katanya. Saya percaya saja karena kami tinggal di desa dan saay tidak pernah imunisasi semasa hamil.

Tanpa pengetahuan yang benar tentang parenting, saya malah memberi bayi malang ini makan dan minum susu formula. Itu terjadi tahun 2000. Sakitnya masih stay dan saya tidak tahu metode yang tepat untuk pengobatannya.
Suami saya yang sibuk dan enggan berkomunikasi tentang bagaimana metode perawatan bayi mungil ini. Alasannya sepele. “sibuk.” Memang dia sangat sibuk sebagai aktifis.

Baca Juga:  Perempuan NTT dan Kebiasaan dibelis. (bagian 1)

Meski awalnya menolak, namun penyakit bayi ini justru membuatku makin menyatu dengannya dalam penderitaannya. Bayi berusia dua bulan itu tak bisa BAB dengan lancar dan sangat pucat. Kadang saya berbicara dengan air mata berlinang dan bayiku selalu tersenyum, seperti sebuah doa. “hanya Tuhan yang bisa menolongmu, nak.”
Harus saya akui bahwa itu saat paling sukar sekaligus indah. Seperti kasih mula-mula, saya mulai belajar berharap sepenuhnya pada Tuhan. Betapa tidak, di tanganku terletak bayi yang tak berdaya dan dalam kenyataannya, suamiku mulai sibuk dan jarang di rumah.

Suatu ketika, saya menemukan alasan untuk keluar dari rumah. Langsung saja saya datangi seorang penasehat spritualku dan minta bayi ini didoakan. Perlu saya gambarkan bahwa masa itu, saya menjalani hidup yang sangat rumit. Saya tidak punya uang sepeserpun dan bergantung pada dompet suami sehingga terlalu sering mendapatkan perlakuan kasar bahkan pukulan dari suami yg mabuk dan juga karena alasan lain. Normal saja saya tertekan dan merasa seperti terbelenggu dalam penjara bawah tanah. Saya panik. Di tanganku ada bayi di ambang kematian tapi di sisi lain, saya juga harus selalu waspada dari ancaman suamiku.
Aku tidak berdaya ketika ingatanku kembali pada masa remajaku yang hilang dan menikahi pria yang tampan itu. Aku Perempuan muda yang bermimpi menjadi ratu tapi akhirnya aku malah jadi babu dalam rumahku sendiri. Sulit dibayangkan hari ini tapi aku melewatinya dengan selamat.

Sekali waktu, Melalui sebuah mimpi, saya beranikan diri memijat perut bayi ini, perlahan-lahan dan dia mulai sendawa. Tanpa saya rencanakan ternyata sendawa itu jadi awal, bayiku mulai sembuh berangsur dan ayah biologisnya yang jatuh sakit. Usianya enam bulan, saya harus rela menjadi janda muda karena ditinggal mati suamiku. Saya tidak larut dalam kesedihan.

Aku sekarang adalah ibu sekaligus ayah dari empat orang balita yang harus saya perhatikan. Seminggu setelah suamiku dimakamkan, aku hijrah ke Alor, pulang ke rumah orang tuaku karena aku mendapatkan tugas bekerja di sana.
Belum pulih anak ini namun harus dititip pada seorang inang, agar saya bisa ke sekolah, setiap pagi. Tinggal bersama si inang di rumah, kutitipkan bayiku 8 jam setiap hari.

Nasib buruk belum pergi. Tiba-tiba anak ini diare dan dibawa ke rumah sakit. Masa itu, pelayanan rumah sakit belum sebagus sekarang. Hampir lima jam menunggu di unit gawat darurat tanpa ada pelayanan, saya membawa bayi ini kembali ke rumah dan kisah itu dimulai. Dua bulan sudah bayi ini sakit dan berbagai metode perawatan non medis, saya pakai.

Baca Juga:  Petarung bersarung. Perempuan pemimpin, membangun bangsa dari kampung.

Di suatu siang, sepulang sekolah, saya masuk ke kamarnya dan kaget bukan main. Mata mungilnya sudah tidak meram. Aku buka kelopak matanya, refleks namun sangat lemah. Tanpa sepatah kata saya memanggil beberapa adik perempuanku dan menyuruh mereka menunggu, akhir dari kisah bayi ini.
Saya menyingkir ke kamar yang lain dan langsung tidur tanpa harapan. Sedikit bergumam saya memelas dalam doa tanpa menutup mata
“Tuhan, kalau Saya harus kehilangan bayi ini, kenapa Tuhan tidak ambil sejak dia ada dalam rahimku? Saya sudah minum obat, saya celaka motor tetapi Tuhan tetap jaga dia dan bawa dia dalam hidupku. Aku sudah terhubung dan tumbuh bersama bayi ini dalam masa sukar di rumah suamiku, kenapa hari ini harus Kau ambil dia? Tak sanggup saya melihatnya mati.”

Karena terlalu penat, saya malah tertidur dan tidak tahu sama sekali keadaan bayiku. Sudah saya pesan pada adikku. “jangan tinggalkan dia. Nanti kalau dia sudah mati, kasih tahu saja, kakak tidur di kamar sebelah. Kakak tidak sanggup melihat bayi bertarung dengan maut”

Terjaga dari tidur, jarum jam di arlojiku menunjukkan angka 5. Lho… Kok tidak ada yang membangunkan saya? Ya. Ternyata bayiku tidak mati. Saya bergegas dan membawanya kembali ke rumah sakit karena dari informasi yang saya dengar, sudah ada dokter anak di kota itu.
Waktu dipasangi infus, badannya membengkak akhirnya dokter memutuskan untuk tidak diinfus.
Dua hari kemudian kami keluar dari rumah sakit dan dia mulai bisa meminum susu formula.

Usianya tujuh bulan, waktu keluar dari rumah sakit karena tidak bisa dirawat lanjut. Waktu yang sama, saya harus kembali ke kota Kupang karena urusan pernikahan adikku. Tak bisa saya abaikan permintaan dari bapak untuk mewakili beliau, menjadi pendamping nikah adikku. Semua berjalan apa adanya. Aku mulai belajar pasrah dalam iman yang begitu kuat. Doa saya hanya sepenggal aja. “jauh atau dekat, bukan saya penjaga bayiku. Hidupnya milik Tuhan.”
Dua minggu waktuku jauh dari dia. Setiba kembali di rumah, aku dapati bayi ini sudah sembuh Tapi kaki tangan nya mengalami lumpuh layu.
Seolah tak tahu keadaannya, saya mendekapnya penuh kasih lalu kami tidur berlima dengan kakak-kakaknya. Selama masa itu, saya tidak pernah ceritakan hal-hal buruk yang saya alami kepada siapapun, termasuk mama kandungku sendiri. Saya selalu diam dan biarkan hidup mengalir seperti air.

Baca Juga:  Jadilah utuh

Dini hari yang sejuk, dalam dekapan malamku yang masih hangat, kudengar hentakan kaki bayi di atas ranjang kami. Saya masih enggan membuka mata ketika bibir mungilnya memanggil, “mamaa”
Kubuka mata dengan sangat awas, kuatir pada apa yg terjadi, ternyata dia melihatku dan tersenyum semanis senyumnya ini…
Ooh, dunia rasanya begitu indah dan aku memanggil dia Laharoi yang artinya “di sini aku melihat Dia Tuhan, yang melihat aku…!”

Kini bayiku sudah berumur dua puluh tahun dan dua puluh tahun pula aku menjanda. Dia pernah mengalami kejang-kejang dan saya pikir dia bisa cacat atau lemah otak. Guru-gurunya selalu bilang dia cerdas. Teman-temannya banyak. BerKepribadian ceria, memungkinkan dia memiliki banyak nama yg diberikan oleh teman sekampusnya. Dalam komunitas, dia sering dipanggil Joker. Setiap tiba di rumah, dia akaj habiskan waktu beberapa menit, duduk di depanku dan bercerita tentang harinya. Aku tidak pernah merasa sendiri karena dia selalu ada bersama kakak-kakaknya yang baik. Kami adalah anggota dari ibu kepala keluarga. Dan itu luar biasa.

Saya menuliskan kisah ini sebagai ungkapan syukur bahwa Menjadi janda di usia muda memang aib bagi manusia. Khabar baiknya adalah datang dari kenyataan bahwa Tuhan menciptakan dunia lain dalam hidupku.
Bermodalkan akte kematian suami, tanpa cincin kawin dan pagar rumah, tapi cinta dan kepercayaan anak-anakku, menguatkan setiap jejak langkah kami sebagai keluarga besar.
Jika anda membaca tulisan ini, yakinlah bahwa tidak kebetulan hal-hal buruk menimpamu. Selalu ada maksud terselubung di dalam setiap bencana. Jangan takut pada tekanan hidup yang kau alami saat ini. Selalu ada cinta yang Tuhan berikan cuma-cuma, dan sangat banyak mungkin melalui sahabat, saudara atau anak-anak yang kau lahirkan.
Pertanyaannya adalah kepada siapa anda berharap?
Memang, ini bukan hidup yang aku pilih tapi aku dipulihkan dan menemukan pengharapan dalam Tuhan.

Semanis dia memanggilku mama, aku beri dia nama Laharoi.
God bless

Facebook Comments
Bagikan :